Film-B: Tontonan Senang-Senang

Meksiko, siang hari. Seorang opsir bermuka sangar mendobrak pintu sebuah gedung. Brak! Dengan goloknya ia langsung bacok, tebas, tusuk beberapa orang secara membabi buta. Salah satu dari mereka bernasib sial. Sudah dipenggal, kepalanya dibelah pula. Darah muncrat ke segala penjuru ruangan. Ia kemudian masuk ke dalam sebuah kamar di mana seorang perempuan telanjang menyambutnya dengan senyum genit. Ia menggendongnya keluar. Namun, di saat genting si perempuan malah menggodanya. Tiba-tiba oleh si perempuan, goloknya dicabut dan cras! Selangkangan sang opsir kena gowes. Si perempuan mengeluarkan ponsel dari kemaluannya. Sesaat kemudian seorang gembong mafia obat bius datang. Ia membawa istri sang opsir dan memancungnya begitu saja.

Penggalan cerita di atas tidak diambil dari tengah-tengah sebuah film, di mana konflik biasanya baru mulai naik, melainkan 5 menit pertama Machete (2010) arahan Robert Rodriguez ketika judul filmnya bahkan belum tampil–kita mungkin baru membetulkan posisi duduk supaya dapat menonton dengan nyaman. Tapi belum apa-apa, kita sudah disuguhi kebrutalan (ultraviolence), darah, dan perempuan telanjang.

Bagi yang banyak orang, tentu adegan-adegan tersebut menjadi preseden sebuah film yang jelek. Tidak ada pesan moral yang dalam di sana, pun tidak ada drama yang akan membuat mereka menitikkan air mata. Dibandingkan dengan film-film mainstream, kualitas film macam ini akan mereka letakkan jauh di bawah. Kemudian, saat melihat segelintir orang sangat antusias mengikuti aksi demi aksi Machete Cortez, mereka pun bertanya, “Apa sih bagusnya film ini?” Para pecinta film-B itu akan menjawab, “Semuanya.”

Film-B juga sering melupakan kata cukup. Lihat goloknya.

Apa itu film-B?

Secara singkat, film-B dapat dimengerti sebagai karya sinematis yang berbujet relatif rendah, tanpa ambisi artistik dan kedalaman makna a la arthouse, tidak dikendalikan oleh aturan-aturan yang membatasi film mainstream, dan sedikit “lebih sopan” dibanding film porno. Memang pada awalnya, istilah itu mengacu pada sebuah konsep yang lebih sempit. Mulai sekitar akhir 1920-an atau awal 1930-an ketika studio-studio film di Amerika menjual produknya dengan model double feature (dua film sebagai satu paket), “film-B” digunakan untuk menyebut satu dari dua film yang dijual bersama itu, yaitu yang lebih rendah dananya dan, karena itu, dianggap buruk kualitasnya. Seiring berjalannya waktu, film-B pun membentuk semacam aliran sendiri, dengan cerita yang meliputi tema-tema fiksi ilmiah, horor, suspense, western, exploitation, dll.

Pembalasan Pohon Natal (Treevenge)

Saya menjumpai sebuah frase bagus di sebuah situs: innocent fun. Saya kira frase ini dapat memudahkan kita memahami film-B. Seorang Beatrix Kiddo (Kill Bill I & II – Quentin Tarantino, 2003 & 2004) yang mampu mengalahkan puluhan orang sekaligus dalam sebuah pertempuran tampak terlalu berlebihan. Pohon-pohon natal yang secara brutal membantai (baca: mencopot bola mata, memenggal leher, menusuk jantung) manusia-manusia yang telah menebang dan menjadikannya hiasan terdengar tidak masuk akal, namun ini yang terjadi dalam film pendek Treevenge (Jason Eisener, 2008). Di film-film sexploitation seperti Women in Cages (Robert Corman, 1971), kita akan dapat melihat banyak adegan yang terasa dipaksakan untuk menampilkan perempuan telanjang. Elan innocent fun memberi kebebasan bagi sutradara untuk membuat cerita dan adegan seperti yang mereka inginkan meski harus mengorbankan estetika dan logika konvensional. Di sinilah formula humor garing, kebrutalan dan darah, special effect payah, adegan norak, hingga dialog murahan menemukan peran masing-masing untuk menghibur.

Lalu?

Barangkali kita telah menonton film-B lebih banyak dari yang kita sadari. Jurassic Park, Star Wars, dan Jaws memiliki materi film-B. Hanya saja aspek teknis (sound, special effect, dsb) dan wujud (dialog, gambar, dsb) film-film tersebut terlalu bagus untuk dikategorikan B, selain karena bujetnya yang mahal. Harus diakui bahwa dalam banyak kasus materi film-B memang sangat menghibur. Tetapi tidak dapat dimungkiri pula bahwa karakteristik umumnya yang vulgar, terkesan murahan, dan seringkali berisi omong kosong belaka membuat banyak orang menganggapnya karya seni yang buruk (kitsch).

Butuh cara pandang tersendiri dalam hal ini. Sungguh, menyaksikan Machete untuk mencari pesan moral seolah-olah kita menonton film Disney adalah sebuah kesalahan. Kita harus benar-benar mengerti kalau ini adalah innocent fun, murni senang-senang. Kalau ada yang kita perlukan untuk menikmati film-B, itu hanyalah kepolosan yang pernah kita miliki semasa kanak-kanak. Kita harus siap untuk dihibur sepanjang film tanpa terbebani apapun, termasuk nilai moral, rasa malu, dan, kalau perlu, nalar.

Advertisements

One thought on “Film-B: Tontonan Senang-Senang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s