Pebalap atau Pembalap?

Pada 30 Oktober 2010 lalu, seorang kawan bercerita lewat milis Bahtera. Katanya, harian Kompas hari itu menulis pebalap dalam artikel mengenai keberhasilan Jorge Lorenzo menjuarai MotoGP 2010. Di pagi yang sama, ia juga membaca koran Sindo dan menemukan kata pembalap. Kawan itu lantas bertanya manakah yang sebaiknya digunakan, pebalap atau pembalap?

Kebingungan dalam kasus di atas terjadi dalam proses morfologis, yaitu afiksasi (pemberian imbuhan) dengan prefiks pe- dan per-. Mari kita singgung sedikit tentang prefiks-prefiks ini. Yang dilakukan pe- adalah terutama mengubah verba (kata kerja) menjadi nomina (kata benda)—ada fungsi lain, yaitu mengubah adjektiva (kata sifat) menjadi nomina. Nomina yang dimaksud bisa berwujud pelaku/profesi/pemilik kebiasaan (misalnya, pencuri, penyanyi, petinju, perokok), alat (penggaris, pemukul), ataupun kata benda abstrak (penunjuk). Prefiks per- juga demikian. Ia membentuk nomina pelaku, profesi, atau alat dari verba. Dari sini, nampak bahwa pembentukan nomina pelaku dalam bahasa Indonesia dilakukan melakui afiksasi verba. Bedanya, pe- bekerja dengan verba berimbuhan me- sedangkan per- memroses verba berimbuhan ber-. Nomina ajar, misalnya, menjadi verba dengan diimbuhi meng- atau ber- sehingga dikenallah bentuk mengajar dan belajar. Lalu, untuk menyebut profesi atau pelakunya, kita berkata pengajar dan pelajar.

Dalam kasus yang mirip, kita tidak bisa memberi imbuhan pe- atau per- sebelum tinju karena ia nomina. Tinju kudu melewati proses afiksasi menjadi verba bertinju dan meninju. Menurut KBBI, bertinju bermakna (1) “berpukul-pukulan dengan tinju” atau (2) “berkelahi dengan saling meninju” sedangkan meninju lebih menerangkan sebuah perbuatan yang dilakukan satu pihak saja, yaitu “memukul dengan tinju”. Setelah menjadi verba, barulah kita memperoleh bentuk-bentuk pelaku petinju dan peninju.

Pebalap dan pembalap berakar dari kata balap, yang tidak lain sebuah nomina. Seperti sebelumnya, kita perlu menjadikannya verba untuk membentuk nomina pelaku. Ketika Kompas memilih menggunakan kata pebalap, saya berasumsi proses yang terjadi di dapur bahasa penulis adalah per- + V (ber-N). Dengan kata lain, verba berbalap diperlukan di sana. Bahasa merupakan konvensi masyarakat penggunanya. Sayangnya, kata berbalap itu belum wajar digunakan. Pusat Bahasa pun tidak mencantumkannya dalam KBBI—di bawah lema balap hanya ada berbalapan, membalap, membalapkan, dan pembalap. Kalaupun kata itu ada, tidak seperti bermotor atau bersawah, berbalap mungkin agak susah dimengerti maknanya (keterangan lebih lanjut tentang fungsi prefiks ber- terdapat pada halaman 44 buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia [2007] tulisan Harimurti Kridalaksana).

Di lain pihak, bahasa Indonesia memiliki kata membalap yang telah berterima dan jelas artinya. Kata ini dapat dengan mudah diubah menjadi nomina pelaku, yaitu pembalap. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa pembalap ialah kata yang lebih tepat daripada pebalap a la Kompas untuk menyebut orang yang turut serta dalam lomba adu cepat.

Sebenarnya, masih banyak kasus-kasus lain yang serupa. Contohnya, sekarang jamak ditemui kata petambang, bukan penambang. Tentu ada pertimbangan yang berbeda antara masing-masing penggunanya. Kita mengerti penilaian dalam berbahasa terutama didasarkan pada kelancaran komunikasi; tidak ada benar atau salah di sana. Hanya saja, menurut saya, sepertinya penambang itu lebih tepat.

Advertisements

6 thoughts on “Pebalap atau Pembalap?

  1. Pebalap Motor bukan Pembalap Motor

    Untuk orang/ahli/pakar/pelaku kegiatan dan olah raga tidak mengalami perubahan alomorf (variasi bunyi) dan tidak mengalami pelesapan (kata dengan inisial KTSP tidak meluluh).
    Awalan Pe- + Nama Olah Raga, Seperti:

    Pe + Balap = Pebalap bukan Pe(m) + balap = Pembalap
    Pe + Dayung = Pedayung
    Pe + Catur = Pecatur
    Pe + Biliar = Pebiliar
    Pe + Renang = Perenang
    Pe + Golf = Pegolf

    [t]
    Pe + Tenis = Petenis
    Pe + Tinju = Petinju bedakan Pe(n)+tinju=Peninju (orang yg memukul bukan profesi)
    Pe + Tambang = Petambang beda dengan Pe(n)+tambang = Penambang
    Pe + Tembak = Petembak (olah raga) beda dengan Pe(n)+tambang =penambang

    [s]
    Pe + Selam = Peselam
    Pe + Selancar = Peselancar
    Pe + Sepak bola = Pesepak Bola
    Pe + Silat = Pesilat
    Pe + Sepeda = Pesepeda

    • Konsistensi memang sulit dalam bahasa. Tapi dalam arti ini kita tidak punya verba ‘berpanah’, yang ada ‘memanah’. Jadi, atletnya bisa kita sebut ‘pemanah’.

  2. Terlepas dr benar atau salah.. Menurut sya hanya terletak pada kemudahan dalam mengucapkan.. Kita sudh terbiasa pe(m)balap d banding pebalap..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s