Menyikapi Bahasa

Syahdan, Kung Fu-Tze pernah berkata, “… selama penggunaan bahasa tidak beres, yang diucapkan bukanlah yang dimaksud, yang dimaksud tidak dikerjakan, dan yang dikerjakan bukan yang dimaksud.” Saya percaya pada kata-kata sang filsuf Cina. Namun, saya tidak yakin apakah bahasa dapat betul-betul dibereskan. Mari kita fokuskan perhatian pada bahasa Indonesia.

Banyak sekali munsyi yang pernah mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu centang perenang alias amburadul. Saya tidak bisa membantah karena kenyataannya memang seperti itu. Mungkin ada banyak hal, tapi ada tiga yang saya catat, yang setidaknya menjadi biang keladi utama kekacauan tersebut: kebingungan tata bahasa, (ketiadaan) logika bahasa, dan juga sifat bahasa yang dinamis.

Untuk menjelaskan poin pertama, saya akan mengambil contoh dalam tataran morfologi, yaitu kebingungan dalam penggunaan konfiks me-kan dan me-i, serta prefiks me-. Sepintas tidak ada bedanya antara kalimat “Barcelona memenangkan pertandingan melawan Valencia” dan “Barcelona memenangi pertandingan melawan Valencia.” Di sini, afiksasi leksem menang tidak menimbulkan salah tafsir. Tapi masalahnya akan berbeda dengan kalimat-kalimat “Saya semalam menidurkan Megan Fox” dan “Saya semalam meniduri Megan Fox.”

Amsal lain adalah penggunaan preposisi di yang sering dikacaukan dengan prefiks di-. Tak usah saya jelaskan pembaca pasti tahu apa bedanya “salat boleh dilanggar” dan “salat boleh di langgar.”

Sebab kekacauan bahasa yang kedua adalah ketidaknalaran bahasa. Ketika banyak orang berbicara tentang logika bahasa, sebetulnya bahasa tidak benar-benar mengenal logika. Dalam bahasa Inggris kita mengenal kata boot yang kalau jamak menjadi boots, tapi kata foot kalau jamak menjadi feet.

Dalam bahasa Indonesia, orang-orang berusaha mengenalkan kata utang dan berutang sebagai bentuk yang benar dari kata hutang dan berhutang. Tapi tentu kita bertanya kenapa kata hutan tidak menjadi utan dan lalu berutan. Konon, lesapnya huruf “h” itu karena pengaruh bahasa Jawa. Kekacauan logika juga terjadi ketika kita mengenal efektivitas sebagai bentuk nomina dari ajektiva efektif yang diserap dari kata bahasa Inggris. Proses penyerapan dan lalu penggantian huruf “v” menjadi “f” lalu kembali menjadi “v” lagi sama sekali tidak berdasar logika.

Itu baru dalam taraf morfologis. Strukturalisme bahasa lebih lanjut memberitahu kita bahwa penanda dan petanda tidak memiliki hubungan yang logis. Jadi, ketika orang Jawa meminta gedhang (pisang), orang Bali akan memberinya gedhang (pepaya).

Selanjutnya, sebab yang ketiga, adalah kenyataan bahwa bahasa ialah hal yang dinamis dan sebab itu kerap terjadi pergeseran makna. Contoh yang akan saya gunakan adalah idiom haru biru. Yang sekarang dipahami, ungkapan itu bermakna “kesedihan yang mendalam”. Namun merujuk makna ungkapan—yang konon aslinya—dari haru biru, ternyata haru bukanlah ia dalam kata terharu dan biru tidaklah semakna dengan ia dalam kalimat hatiku biru.

Haru biru telah mengalami pergeseran makna karena dalam KBBI ungkapan terebut berarti kacau balau dan kemudian mengharubiru bermakna mengacaubalaukan. Dua leksem itu bergabung dan teridiomatisasi sehingga membentuk makna tersendiri. Masalah lain dalam dinamika bahasa adalah perubahan bentuk. Selain ejaan, pergeseran bentuk juga terjadi secara lebih halus. Misalnya ungkapan kelam kabut yang sekarang dikenal dengan bentuk kalang kabut.

Bahasa bukanlah persoalan hitam di atas putih karena pada praktiknya bahasa itu parole, yaitu ujaran. Dalam tataran ini sistem memainkan peran yang minimal karena pilihan kata, intonasi, dan penggunaan kaidah bahasa dipakai secara bebas menurut kehendak si pengujar. Selama apa yang ia sampaikan terpahami, tidak ada masalah. Selalu ada kompromi-kompromi dalam berbahasa.

Bahasa sebaiknya digunakan selentur mungkin. Namun begitu kaidah dan segala pembakuan, yang oleh Saussure disebut dengan istilah langue, tentu tetap perlu ada karena tanpanya mustahil komunikasi dapat berlangsung. Tapi, seperti kata Ayu Utami, hendaknya kita selalu mengikuti asas “hukum untuk bahasa” alih-alih “bahasa untuk hukum”.

Kekakuan dalam mengikuti kaidah malah akan menyulitkan. Sebab itulah saya setuju dengan penolakan Alif Danya Munsyi terhadap “bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Prinsip komunikasi dalam berbahasa harus dibarengi dengan prinsip kreativitas dan estetika.

Akhirnya, suatu kali saya ditanya oleh teman saya, “Lalu bagaimana sebaiknya kita menggunakan bahasa Indonesia di tengah-tengah kebingungan itu?” Saya kesulitan menjawab sampai akhirnya saya teringat ucapan salah seorang intelektual dan sastrawan Indonesia bahwa dalam berbahasa kita perlu “terus-menerus berikhtiar”.

Nah, kira-kira seperti itu pulalah jawaban saya. Kebingungan akan terus terjadi, kita tak perlu gelisah soal itu.

(6 Mei 2010)

Advertisements

2 thoughts on “Menyikapi Bahasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s