Meramal Koalisi

“JK-Mega Menjajaki Koalisi” begitu judul berita utama Kedaulatan Rakyat pagi, Kamis, 12 Maret 2009. Dicetak jelas dengan ukuran huruf yang besar dan tebal di pojok kanan halaman pertama dan dengan kalimat informatif, judul itu mengandung kesan seolah-olah sebuah fakta yang benar adanya: bahwa wakil presiden dan mantan presiden kita itu menjajaki sebuah upaya kerja sama antar partai masing-masing.

Benar saja, kalimat pembuka paragraf berita itu adalah “Penjajakan terus dilakukan Jusuf Kalla (JK) bersama Partai Golkar, untuk membentuk pasangan baru dalam Pilpres mendatang.” Tetapi yang membuat saya terkejut adalah pembantahan yang dilakukan sendiri oleh Sekjen PDIP Pramono Anung yang mengaku tidak tahu apa yang dibicarakan dua tokoh di atas. “Soal koalisi atau tidak, itu merupakan kewenangan kedua tokoh tersebut,” ujarnya.

Lho, bukannya penjajakan JK terhadap Mega sudah jelas tadi di judul? Kenapa judul dibantah sendiri oleh badan berita?

Saya tidak terlalu menggemari politik—kecuali dalam cerita cosa nostra. Yang membuat saya terkejut membaca berita di atas adalah ketidakpaduan judul dan badan berita serta penggunaan kalimat analitis sebagai judul. Asal tahu saja, esok harinya KR melanjutkan topik yang sama dengan berita utama berjudul “JK-Mega Belum Bahas Soal Koalisi.” Jadi, KR membuktikan ketidak-akuratannya sendiri dalam menyampaikan kebenaran yang seharusnya sampai kepada masyarakat walaupun dalam keadaan tidak utuh.

Ini tidaklah adil bagi si objek maupun pembaca. Tujuan dari penulisan judul seperti ini tidak lain untuk menarik minat pembaca. Namun, bagaimana bisa surat kabar yang tugasnya “cukup hanya” mengabarkan malah menjadi menghakimi sebuah topik.

Jelas ada yang salah: KR memperlakukan pendapat reporternya sendiri sebagai fakta. Dan mungkin, meminjam kata-kata Bill Kovach dan Tom Rosentiel, KR telah melampaui batas skeptisisme menjadi sinisme. Saya rasa jika berita pertama itu diberi judul “JK-Mega Akan Menggelar Dialog” saja mungkin akan lebih arif.

Judul pertama yang terkesan hanya menebak-nebak di atas mengimplikasikan setidaknya dua hal. Pertama, kekurang sabaran dalam menjalani proses. Memberitakan seringkali adalah proses sedikit demi sedikit. Jadi mungkin lebih baik bicara secuil tapi fakta daripada mengumbar prasangka. Kedua, kegemaran melebih-lebihkan dan membesar-besarkan fakta alias suka sensasi yang nantinya bisa membuat orang terbuai melupakan apa yang penting.

Reporter KR tersebut mungkin lupa bahwa tugas jurnalisme adalah memilih, menyampaikan, memverifikasi berita. Ini keliru karena satu, dia adalah reporter yang artinya “orang yang tugasnya melaporkan,” bukan forecaster seperti Mama Lauren.

(13 Maret 2009)

Advertisements

One thought on “Meramal Koalisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s