Dilar*ng Mengump*t

Perlu sensor?

 

Saya ingat betul bagaimana Goal.com mengutip ucapan Nicolas Anelka di tengah kekacauan timnas Perancis di Piala Dunia 2010. Konon pemain Chelsea yang terkenal mbeling itu berkata, “Go f*** yourself!” saat berselisih paham dengan pelatihnya, Raymond Domenech. Ia pun dipulangkan secara tidak hormat.

Media cetak sering malu-malu untuk menggunakan atau mengutip umpatan. Untuk itu, digunakanlah asterisk (*) sebagai sensor. Tentu saja, tidak semua huruf dalam sebuah kata makian diganti tanda asterisk. Dengan menyisakan setidaknya satu huruf, media ingin apa yang diucapkan oleh sumber terkait tetap dapat mudah dipahami tanpa harus menyalahi asas kesopanan. Jika kita menulis f*** dalam situasi tertentu, dengan memahami konteks bacaan hampir bisa dipastikan orang dapat menebak bahwa kata tersebut adalah fuck.

Pertanyaanya adalah kalau orang tahu apa yang kita maksudkan, apakah f*** lebih etis dan berterima daripada fuck?

Dalam percakapan lisan, kita menjaga sopan santun dengan tidak menggunakan kata-kata kotor. Demikian pula dengan komunikasi melalui tulisan. Umpatan lebih baik disimpan dalam kamus demi keadaban.

Kebingunan terjadi ketika kita tidak bisa menghilangkan kata umpatan. Misalnya, ketika mengutip ujaran seseorang atau lirik lagu yang di dalamnya terdapat maki-makian. Beberapa hari lalu media massa Inggris The Guardian membahas hal ini dalam sebuah posting di blog bahasa-nya. Untuk membela keputusan editor mereka untuk tidak menyesor umpatan semacam fuck dan cunt, mereka mengklaim menggunakan kata-kata itu hanya jika diperlukan dan terbatas dalam kutipan langsung dari ujaran sumber ataupun dari suatu karya seni. Satu hal yang menarik ialah mereka juga menolak menggunakan asterisk.

Inti dari penyensoran adalah melindungi audiens dari sesuatu yang tidak sopan. Ketika orang menangkap as* sebagai asu (karena jika asa maka tidak perlu disensor), jelas bahwa asterisk tidak berfungsi seperti yang diinginkan. Ia tidak cukup kuat untuk menyembunyikan “kekotoran” kata asu dan semacamnya. Malah, bisa jadi karena pemakaiannya telah menjadi kebiasaan, asterisk bisa menjadi indikator ketidaksopanan.

Menyensor dengan menggunakan suatu tanda menjadi sia-sia belaka jika masih menyisakan beberapa huruf dan memberi konteks. Sementara itu, menghilangkan semua huruf sama saja menghapus sebuah kata. Ini dapat menyusahkan pembaca, yang sebenarnya berhak tahu apa yang sebenarnya dikatakan.

Jadi, mungkin pilihan yang paling masuk akal adalah (1) sebisa mungkin jangan mengumpat, dan (2) jika harus, maka tak perlu disensor. Hal ini tentu dapat juga berlaku untuk interaksi kita dalam komunikasi seluler maupun online.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s