Messi Needs a Gago to Tango

Gago dan Messi setelah pertandingan melawan Kosta Rika

Argentina membutuhkan kemenangan atas Kosta Rika agar lolos dari babak kualifikasi setelah dua hasil imbang sebelumnya. Dengan tidak mengecilkan performa Bolivia dan Kolombia, yang memang tampil sangat solid, penampilan Tim Tango ini banyak dibilang mengecewakan. Hasil imbang yang didapat bukan akibat kesialan, tapi lebih karena alasan teknis.  Rasa frustrasi mulai membumbung di kubu tuan rumah Copa America 2011 itu. Sang megabintang Lionel Messi pun dijadikan kambing hitam, meski ia bukan pemain terburuk di dua pertandingan itu.

Fans Argentina layak kesal saat peluit wasit menyudahi pertandingan melawan Kolombia. Skor berakhir kacamata dengan Sergio Romero sebagai pahlawan. Ia-lah yang menghalau sepakan kencang pencetak 15 gol di Piala Europa musim ini, Falcao. Sebuah lelucon terjadi ketika Messi mengarahkan tendangan bebasnya jauh ke atas. Ia mungkin mengincar burung yang sedang lewat.

Akan tetapi ada suatu hal positif yang bisa diambil dari pertandingan itu. Masuknya Fernando Gago, jelas sekali membuat perbedaan yang diperlukan Argentina. El Nuevo Fernando Redondo menggantikan Ever Banega dan membikin pasokan bola ke depan menjadi lebih lancar. Sayang sekali kehadiran Gago tidak cukup untuk memenangkan timnya.

Orang-orang mulai meneriakkan perlunya sosok midfield playmaker di Argentina, seorang dirigen lapangan tengah semacam Riquelme atau Veron. Maradona berkomentar bahwa mereka sebaiknya menurunkan Javier Pastore. Sergio Batista sendiri lebih memilih memasang Fernando Gago untuk laga genting melawan Kosta Rika, yang baru saja menang 2-0 melawan Bolivia. Bersama dengan itu, susunan lini tengah dan depan diubah besar-besaran. Panghangat bangku cadangan lain seperti Aguero, Higuain, dan Di Maria sejak awal. Keputusan yang jelas diharapkan menjadi solusi kemacetan Tevez, ketidakefektivan Lavezzi, dan kebingungan Cambiasso.

Pertandingan melawan Kosta Rika dimainkan Argentina dengan mengandalkan dua pemain lini tengah murni saja, Mascherano dan Gago. Messi,kali ini tampil dengan brewoknya, seolah ingin melambangkan jiwa sepakbola Argentina seperti yang pernah ditulis jurnalis Borocotó di majalah olahraga El Gráfico pada tahun 1928.

Kita bisa melihat agresivitas tim sejak awal pertandingan. Messi tampak terbebani di babak pertama. Satu-dua gocekannya berhasil dihadang pemain lawan. Sebuah tembakan volinya juga jauh mengarah ke samping kiri gawang. Gago, di sisi lain, seperti ingin menunjukkan bahwa ia masih punya kelas dan Batista, dan mungkin juga Mourinho, telah membuat kesalahan dengan membangkucadangkannya. Semua bisa melihat bahwa visi pemain ini masih tajam ketika ia mengirimkan bola kepada Aguero di kiri lapangan dalam sebuah serangan balik yang cepat.  Puncaknya saat menit 45 babak pertama. Adalah tendangan jarak jauh Gago di penghujung babak pertama yang membuat Leonel Moreira, kiper Kosta Rika, harus membuang bola dengan kaki dan memungkinkan Aguero menceploskan bola dengan mudah.

Pada babak kedua, Lionel Messi mulai bermain lepas. Ini berarti malapetaka bagi lawan. Ia tidak mencetak gol, namun mencatatkan dua assist—dan mungkin tiga atau empat jika penyelesaian Higuain dan pemain pengganti Lavezzi menemui sasaran. Dengan dukungan lini tengah yang lebih kreatif dan pandai memainkan tempo, Messi berhasil membungkam para pengecamnya. Semua tidak akan terjadi andai bola hanya asal diumpankan ke depan seperti dua pertandingan sebelumnya. Ever Banega dan Esteban Cambiasso sebaiknya membiasakan diri untuk duduk di bangku cadangan mulai sekarang.

Pertandingan berakhir 3-0 untuk Argentina. Aguero dan Di Maria telah menghadirkan keganasan yang dirindukan publik tuan rumah.  Demikian pula, Messi menunjukkan tajinya walau bukan dengan penampilan terbaiknya. Messi dinobatkan sebagai man of the match setelah pertandingan. Akan tetapi, gelar pahlawan tanpa tanda jasa hanya layak diberikan kepada Fernando Gago, yang telah menjadi pengendali bola dari lini tengah, mengalirkan bola dengan sangat baik dari belakang ke depan. Mungkin sekali, kehadirannyalah yang membuat Messi bisa tampil lebih lepas menggalang serangan di sepertiga akhir lapangan.

Mungkin Messi membutuhkan Gago untuk dapat menari tango, hingga Argentina bisa tampil memukau seperti ini. Turnamen masih panjang. Kosta Rika yang mereka hajar adalah tim U-22. Messi dan Gago–tentu juga kawan seperjuangan mereka sejak memenangi Piala Dunia Junior tahun 2005 di Belanda, Sergio Aguero–harus membuktikan kepiawaian mereka melawan tim-tim yang lebih tangguh di babak selanjutnya. Seperti yang kita tahu, Uruguay sudah menunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s