PSSI Akhir Minggu Ini

Di tengah cuaca Sabtu siang yang menyengat begini, saya memilih memantengi layar komputer di dalam rumah. Linimasa Twitter pun mulai berputar tak henti-henti, dan sayup-sayup suara handai tolan mulai terdengar, membisikkan rencana-rencana akhir pekan mereka. “The Cranberries akan pentas nanti malam… Briliant at Breakfast akan main di Teater Garasi… Sebuah bazaar makanan sudah buka dari pagi tadi di kawasan UGM…” Dolores dan zombienya akan terdengar mengasyikkan di malam hari, begitu juga biasanya pertunjukan musik dan bazaar makanan. Duh, andai saja nanti malam tidak ada pertandingan Indonesia vs Turkmenistan.

Saya, dan mungkin banyak yang lain, lebih menunggu-nunggu akan pertandingan itu dibanding acara lain akhir minggu ini. Bukan karena ingin menyaksikan pembalasan dendam atas kekalahan kita akan Turkmenistan sebelumnya, tapi karena pertandingan itu menandai kembalinya striker terbaik kita, Boaz Salossa, serta dimulainya sebuah era baru PSSI.

Era baru? Sebentar, saya yakin banyak yang akan mengerenyitkan dahi.

Sepakbola Indonesia sudah lama berada di tangan-tangan yang tidak baik. Tumbangnya rezim lama di bawah Nurdin menerbitkan harapan baru. Dan setelah kongres di Solo lalu, harapan itu segera saja disematkan di pundak Djohar Arifin, sang ketua umum PSSI terpilih. Djohar, seorang profesor, mengingatkan orang pada sosok Soeratin Sosrosoegondo karena gelar akademisnya sebagai insinyur. Djohar adalah insinyur kedua yang menjabat ketua PSSI setelah sang pendiri sekaligus ketua pertama itu.

Harapan itu, sayangnya, harus sedikit memudar tak lama kemudian. Djohar hanya butuh empat hari untuk mendepak pelatih timnas Alfred Riedl dari jabatannya. Orang-orang dibikin kaget dan mulai berkicauan, menentang dan mempersoalkan langkah ini. Opa, panggilan akrab si tua Riedl itu, dipandang telah berjasa bagi Indonesia walau baru menjalani 9 pertandingan. Penampilan timnas dan euforia masyarakat di Piala AFF tahun 2010 lalu tentu tidak begitu saja bisa dilupakan.

Belum selesai sengketa pemecatan pelatih (dan asisten pelatih, Wolfgang Pikal), PSSI membuat kebijakan janggal lagi. Telah diputuskan sampai setahun ke depan, setiap pertandingan kandang timnas akan disiarkan oleh SCTV, semua kecuali pertandingan Sea Games. SCTV tidak punya pengalaman membuat siaran sepakbola langsung dari stadion, tapi mereka mendapatkan kontrak hak siar dengan mudah. Lebih itu, SCTV dipilih tanpa melalui proses tender.

Djohar berutang budi pada Arifin Panigoro. Ia tak mungkin menang jika Kelompok 78 tidak memilih memberikan dukungan padanya pasca pelarangan FIFA atas pencalonan Arifin. Gosip yang beredar, Arifin-lah ketua PSSI yang de facto sedangkan Djohar ada di bawah kendali sang taipan minyak, yang sebenarnya masih mengincar kursi ketua PSSI. Djohar sendiri konon telah berjanji pada Kelompok 78 bahwa dalam waktu tiga bulan ia akan membikin lagi Kongres Luar Biasa yang akan mewujudkan keinginan Arifin itu.

Dua kebijakan awal ini mengundang prasangka-prasangka buruk terhadap Djohar dan Arifin. Pemecatan Riedl kata orang adalah perintah Arifin Panigoro. Riedl dianggap antek Nurdin karena tidak mau memanggil pemain-pemain dari LPI yang digagas Arifin. Kita juga tahu bahwa SCTV itu bisnis keluarga Sariaatmadja yang juga pemilik Indosiar, stasiun penyiar LPI. Saya tidak tahu bagaimana, tapi mungkin sekali pemilihan SCTV ini berdasarkan kepentingan bisnis Arifin Panigoro.

Tak pelak keraguan atas niat baik pengurus PSSI yang baru mulai muncul di benak orang-orang. Apa ini yang dimaksud dengan revolusi, mengganti semua-semuanya yang ditinggalkan rezim lama? Apa yang begitu tidak berlebihan? Apa ini preseden bahwa PSSI akan menjelma peternakan Orwellian: sebuah rezim despot diganti rezim despot lainnya, ditunggangi kepentingan kelompok seperti di waktu sebelumnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu, saya tidak tahu jawabnya. Untuk malam ini, saya hanya berharap bisa menikmati nonton Indonesia. Saya ingin melihat Boaz-nya Persipura beraksi untuk timnas lagi. Saya penasaran strategi apa yang dimiliki Wim Rijsbergen, pengganti Riedl. Kalau timnas menang, ah, saya akan senang—atau paling tidak, tidak menyesal telah melewatkan the Cranberries dan acara-acara malam mingguan lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s