Melayat

Siang tadi, aku melayati bapak seorang sahabat. Beliau meninggal kemarin sore, tapi aku tak dapat segera berkunjung karena sedang tak sehat. Cuaca Jogja akhir-akhir ini memang dingin dan badanku takluk juga padanya.

Kusambangi rumah sahabatku itu sendirian. Kawan-kawan lain sudah melayat kemarin malam dan tadi pagi, sementara aku sibuk menguras ingus. Ini bapak dari teman lama, orang yang dulu sering berbagi masa denganku. Maka, aku harus datang.

Orang-orang telah berhamburan di depan gang rumahnya di selatan Plengkung Gading. “Terlambat,” batinku. Benar juga, ketika aku masuk halaman rumah duka, hanya kulihat ibu sahabatku itu. Seseorang memberitahuku bahwa jenazah telah diangkut ke kuburan.

Dengan kerudung hitam, ibu sahabatku duduk di depan rumah, menerima setiap ucapan belasungkawa dari pelayat dengan senyum yang redup. Aku berdiri di depan pagar. Baru kuingat bahwa berbeda dari temanku dan bapaknya yang pemeluk Katolik, ibunya orang Muslim. Dalam tradisi Islam memang dianjurkan bagi perempuan untuk tidak mengikuti proses pemakaman. “Walah, mengapa pula kupikirkan ini,” kataku dalam hati. Sungguh aku ingin salami wanita paruh baya itu, tapi mungkin beliau pun sudah lupa siapa aku. Lama kami tak bertatap muka.

Aku memutuskan untuk segera menyusul sahabatku ke sebuah perkuburan di Krapyak. Di dalam kompleks makam yang tak terlalu besar itu, kulihat sahabatku termangu, memandangi jenazah bapaknya yang baru akan dimasukkan ke dalam liang. Ia kuhampiri. “Terima kasih,” ujarnya lirih. “Sabar ya,” kataku. Ia diam dan hanya tersenyum saja–senyum yang sama dengan yang diberikan ibunya untuk para pelayat tadi.

Tiga tukang gali kubur yang telah menunggu di tepi lubang tampak masih terengah-engah. Mereka menunggu jenazah dimapankan. Aku dibuat sedikit heran karena jenazah dipocong, dikubur tanpa peti, dihadapkan ke barat dan diganjal dengan tujuh gumpalan tanah. Ini tradisi Islam. Aku tak tahu apa bapak temanku ini pernah Islam atau bagaimana. Aku pun tak ingin bertanya pada temanku.

Tak berapa lama, jenazah telah terbujur di bawah. Para tukang gali pun segera bekerja, menutupnya dengan papan semen, lalu menguburnya. Salah satu dari mereka sudah tua, mungkin berusia 60-an tahun. Rambutnya telah memutih, namun ia masih terlihat perkasa. Ia terus mencangkuli tanah, tanpa mengucap sepatah kata pun.

Pak tua itu tak teralihkan perhatiannya dari kubur itu. Entah apa yang dipikirkannya: kematian atau kehidupan. Tak mungkin aku tahu. Aku hanya yakin ia dibuat bisu oleh kehidupan. Kan orang bilang mati itu gampang, hidup-lah yang harus diperjuangkan?

Usai menuntaskan pekerjaannya, para tukang gali itu menyingkir dari bibir kubur, digantikan oleh seorang ustad yang akan memimpin doa. Aku berdiri 2 meter dari kubur, mendoakan jenazah bersama beberapa orang lagi. Al-fatihah dilantunkan, kemudian doa-doa yang lain yang tak kuhapal. Ustad itu merapalkan doa berbahasa Arab dengan cepat, tetapi jikalau lambat pun aku tak tahu artinya. Amin… amin… amin saja kuucap.

Sudah itu, giliran seorang romo maju, bersama beberapa pelayat dan keluarga (termasuk temanku). “Dengan nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus..,” ujar romo itu untuk kemudian dibarengi oleh yang lain. Aku memperhatikan saja dari tempatku berdiri yang tak berpindah dari tadi. Kali ini pun sama, amin… amin… dan amin yang kuucap. Aku yakin doa orang-orang ini, yang bahasa Arab maupun bukan, adalah harapan yang baik. Dan bukankah setiap harapan yang baik memang pantas untuk diamini?

Doa selesai. Para pelayat bubar satu demi satu. Aku berjalan keluar mengikuti rombongan. Sempat kulihat para tukang gali kubur duduk-duduk tidak jauh dari makam bapak temanku. Mereka menunggu rezeki tentu saja. “Selalu saja ada hal baik dari kesusahan,” pikirku. Sedikit naif, tapi kurasa itulah yang terjadi saat itu.

Kutunggu temanku di depan makam untuk berpamitan. Ketika muncul, segera kudekati ia dan kupegang pundaknya. Kami lalu saling memberi senyum saja, lain tidak. Mungkin cuma senyum yang dapat meringkas perasaan kami.

Kulepas jabat tangan kami, dan ia melangkah pergi. Sebelum masuk ke mobilnya yang tak jauh dari tempatku memarkir motor, ia sempatkan menengok padaku dan berkata, “Jerusalem kecil, ya?” Aku mengangguk. Ia merujuk pada pemakaman bapaknya. Ia tahu rupanya bahwa aku tadi memperhatikan bagaimana bapaknya ‘diantarkan’ dengan doa dari dua agama.

Kunaiki motorku dan kutarik gasnya pelan-pelan–lucu juga bahkan pada para almarhum pun aku masih merasa harus bersopan-santun. Saat melintasi gapura makam, kulihat para penggali kubur tadi berbincang santai di atas sebuah bandusa. Agama sebuah jenazah dan dengan doa seperti apa ia dikuburkan pasti tiada bedanya di benak mereka. Bagi mereka, setiap jenazah adalah orang mati, tak lebih.

Bagi mereka, setiap jenazah adalah beberapa suap nasi, tak lebih.

Advertisements

4 thoughts on “Melayat

  1. tulisanmu bagus..apa kau menulis utk suatu media khusus? atau hanya hobi? sayangnya di blog ini cm sedikit tulisanmu..do you have another blog? sebab sy senang membaca tulisan2 begini..tentang realita.

    • Matur nuwun, sudah menyempatkan membaca :D
      Nulis sebenarnya cuma kalau sempat, tapi ada beberapa tulisan yang udah diterbitin. Blog-ku cuma ini je, emang belum banyak nulis. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s