Korban Bunuh Diri

Hidup?

Pada November lalu, Metrotvnews.com memberi judul “Tim SAR Temukan Jenazah Korban Bunuh Diri” untuk sebuah berita mereka tentang seorang pria yang mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Siak, Pekanbaru, karena menganggur dan tekanan ekonomi. Penggunaan kata korban di dalam judul itu membuat saya termenung. Ternyata beberapa media massa Indonesia menyebut pelaku bunuh diri sebagai korban dan saya sendiri baru menyadari ini sekitar tiga bulan silam dari sebuah artikel di harian Kedaulatan Rakyat.

Perihal kata korban ini menarik dipandang dari segi bahasa. Jika memang dilakukan secara sadar, penggunaan kata korban untuk merajuk seorang pelaku bunuh diri mengisyaratkan bahwa kita tidak gegabah dalam menilai sesuatu – lebih bijak dalam memandang perilaku orang lain.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa bunuh diri adalah hal yang baik ataupun membenarkan tindakan itu. Akan tetapi, bunuh diri biasanya adalah respon atas suatu impuls dari luar diri. Penting bagi kita untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan mengetahui impuls tersebut.

Memang tidak semua orang yang mengakhiri hidupnya sendiri adalah korban. Teroris yang meledakkan badannya di tengah kerumunan orang bukanlah korban. Ia melakukannya terutama untuk membunuh orang lain. Namun, dalam banyak kasus, bunuh diri tidak didasari niat yang jahat. Bunuh diri bisa jadi dilakukan akibat keputusasaan yang tak tertahankan.

Dalam buku Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning, saya sedih membaca banyak Yahudi memilih bunuh diri dengan berbagai cara karena pedihnya keadaan di kamp-kamp konsentrasi yang dibangun Hitler. Dan tentu kita juga sering membaca tentang fakta menyedihkan bahwa banyak sekali prajurit Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan yang mati bukan gara-gara tertembak musuh, namun karena bunuh diri akibat goncangan mental melihat ketidakmanusiawian peperangan. Pada Juli 2011 saja, ada 32 prajurit yang mati bunuh diri. Anda dapat dengan mudah menemukan berita-berita tentang ini melalui mesin pencari.

Tindakan bunuh diri para Yahudi di kamp konsentrasi, prajurit Amerika di medan perang, dan pria Pekan Baru tersebut jelas berbeda dengan apa yang dilakukan para teroris. Kita harus melihatnya dengan kacamata yang berbeda dan dengan memasukkan faktor-faktor eksternal dalam perhitungan.

Meski dengan membawa-bawa Tuhan, teroris meledakkan diri untuk mencelakai orang lain. Sedangkan para tahanan Yahudi bunuh diri karena tak tahan terhadap perlakuan Nazi, para prajurit Amerika karena mengalami stres dalam kejamnya pertempuran, dan pria Pekan Baru karena putus asa atas keadaan ekonominya. Mereka ini menjemput ajal sendiri dengan tujuan mengakhiri penderitaan yang “diberikan” oleh lingkungan mereka – prajurit-prajurit Amerika itu pun konon terpaksa bergabung dengan militer lantaran tak punya pekerjaan. Orang-orang ini bisa kita sebut sebagai korban karena karena pelakunya adalah hal lain, yaitu keadaan hidup yang pahit. Dan bisa jadi kita juga memiliki kontribusi untuk menciptakan keadaan tersebut.

Mungkin ada jenis orang yang memang mudah putus asa, namun dengan memahami bahwa kasus bunuh diri seringkali didorong oleh impuls eksternal dan pelakunya adalah korban dari impuls tersebut, kita akan terhindar dari kecenderungan asal mengutuk pelaku bunuh diri. Dari sini kita bisa mulai mencari tahu apa yang harus diubah agar hal yang sama tidak terulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s