Garis-Garis dan Setenun Makna

The edited version of this post appeared in July on Garuda Magazine

Suatu sore setelah hujan reda, tujuh bidadari kayangan sedang asyik mandi di sendang ketika seorang pemuda diam-diam mencuri sehelai selendang mereka. Ia telah terpesona dan sangat ingin memiliki salah satu gadis surgawi yang sungguh elok itu. Ia pikir bidadari yang selendangnya ia curi dan sembunyikan akan terpaksa tinggal di bumi, lalu dapat ia jadikan istri. Mimpi pemuda itu untuk meminang bidadari akhirnya terwujud, tetapi tidak untuk selamanya. Kelak sang bidadari tak sengaja menemukan selendangnya yang telah lama hilang. Ia kemudian terbang kembali ke kayangan, meninggalkan pemuda itu berduka seorang diri.


Nama pemuda dalam legenda Jawa di atas Joko Tarub. Kisahnya terlintas begitu saja dibenak saya ketika saya berkunjung ke Pabrik Tenun Lurik Kurnia di daerah Krapyak Wetan, Yogyakarta. Di dalam bangunan pabrik yang lebih mirip rumah itu, saya menyaksikan tenun-tenun indah berwarna-warni sedang dibuat dengan peralatan-peralatan yang tidak bisa dibilang modern. Bisa jadi, seperti kain-kain itulah wujud selendang bidadari yang dibayangkan moyang kita kala dahulu saat mengarang cerita Joko Tarub.

Orang Yogya dan Solo biasa menyebut kain-kain itu lurik. Seperti legenda Joko Tarub, tenun ini adalah tradisi dari abad lampau. Sebuah prasasti Mataram Hindu bertarikh antara 851-882 Masehi, mencatat mengenai tenun lurik jenis pakan malang. Selain itu, para arkeolog juga menemukan bukti telah adanya tenun pada zaman prasejarah di situs Gunung Wingko, Yogyakarta.

“Tenun ini dinamakan lurik ya karena garis-garisnya,” kata Jussy Rizal, pemilik Tenun Kurnia, kepada saya di ruang tamu pabrik yang sepi siang itu. Ruang tamu itu sekaligus berfungsi sebagai galeri kecil, tempat dipajangnya kain-kain dan produk jadi semacam surjan, kemeja, tas, dompet, dan lain-lain. Hanya ada seorang perempuan setengah baya yang sedang membaca koran di belakang meja kasir, tak jauh dari kami. Jussy masih berusia pertengahan dua puluhan. Ia mewarisi bisnis lurik ini dari almarhum kakeknya, Dibyo Sumarto, mantan pegawai pabrik tenun yang membuka pabrik ini tahun 1962 bersama para tetangganya di Krapyak Wetan.

Kata bahasa Jawa lurik atau lorek berarti garis, merujuk pada motif tenun ini yang terdiri dari berbagai variasi susunan garis. Setidaknya ada 3 motif dasar tenun lurik. Pertama, lajuran, yaitu motif yang aksennya dibentuk oleh garis-garis membujur searah panjang kain. Yang kedua adalah pakan malang, aksennya dibentuk oleh garis-garis melintang searah lebar kain. Motif dasar ketiga disebut cacahan yang secara sederhana bisa dikatakan kotak-kotak.

Jussy lantas mengajak saya masuk ke dalam bengkel lurik di bagian belakang bangunan yang juga rumahnya itu. Seiring saya melangkahkan kaki ke dalam, semakin bising suara yang saya dengar. Kegaduhan itu ternyata berasal dari hentakan alat tenun kayu yang sedang digunakan. Tak! Tak! Tak! Begitu ramai karena ada puluhan penenun yang sedang membuat tenun lurik, kontras dengan suasana di luar yang tenang.

Mendekati bangunan bengkel tampak enam perempuan paruh baya sedang sibuk memintal benang dengan alat yang terbuat dari rangka kayu dan roda sepeda. Dengan cekatan mereka memutar-mutar roda untuk memintal. Mereka melakukannya dengan santai, kadang sambil berbincang dengan kawan yang lain. Meskipun begitu, memintal benang ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Benang harus terpintal halus agar menjadi kain bagus.

Masuk lebih ke dalam, berjejer dua ruangan besar tempat sekitar tiga puluh penenun bekerja menggunakan perangkat yang biasa disebut alat tenun bukan mesin atau ATBM. Di satu pojok ruangan terdapat seperangkat alat besar untuk menyusun benang-benang secara horizontal lalu mengumparnya pada sebilah kayu, sebelum akhirnya ditenun.

Tembok ruangan berwarna krem, menambah aura uzur ruangan itu. “Sudah tua-tua,” bisik Jussy. Saya tidak tahu dia merujuk pada bangunan atau para penenun. Tetapi memang sebagian besar penenun di Kurnia sudah cocok dipanggil mbah (kata bahasa Jawa untuk nenek atau kakek), dan bahkan ada yang telah bekerja di situ sejak awal berdirinya pabrik.

Ibu di depan saya tampak sibuk menenun kain cacahan berwarna merah-hitam. Ia sesekali membetulkan benang pakan berwarna merah yang melintang yang berfungsi mengikat benang-benang lungsi yang membujur searah panjang kain. Di sampingnya, seorang pria tua sedang mengerjakan tenun lajuran dengan telaten. “Penenunan harus dikerjakan secara hati-hati. Kekuatan hentakan harus teratur, tak boleh terlalu kuat. Satu benang putus bisa bikin repot,” jelas Jussy.

Sebelum semua proses itu dilakukan, utas-utas benang katun terlebih dahulu diberi warna dengan dicelupkan ke dalam cairan pewarna sintetis di ruangan sebelah tempat penenunan. Sayang waktu itu saya hanya bisa melihat jemuran benang dan jejeran ember saja karena kegiataan mewarnai benang biasa dikerjakan pagi hari. Di tempat pewarnaan itu hanya tinggal dua pria gaek duduk bersender pada tembok yang di sisinya masih tergantung poster Mantan-presiden Suharto yang sudah pudar warnanya.

Tenun Kurnia ajeg memproduksi sekitar tiga puluh motif. Banyak dari motif ini adalah hasil penyesuaian dengan perkembangan zaman dalam hal corak maupun warna. Mereka juga masih membuat motif klasik seperti lajuran jenis telupat yang sampai sekarang dipakai untuk pakaian peranakan abdi dalem kraton.

Motif telupat, artinya tiga-empat, konon diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I (1717-1792). Jika dijumlahkan, angka tiga dan empat menjadi tujuh, sebuah angka istimewa dalam kejawen atau kepercayaan tradisional Jawa karena melambangkan kesempurnaan. Kombinasi dua angka tersebut dipilih, alih-alih kombinasi satu-enam atau dua-lima, untuk lebih melambangkan posisi rakyat (tiga) dan pemimpin (empat) yang sangat dekat dalam masyarakat. Sedangkan warna biru tua peranakan menunjukkan kesungguhan hati abdi dalem membantu sultan.

Tradisi dan budaya Jawa membuat lurik tak hanya sekadar bahan sandang. Seperti yang dikatakan oleh Nian S. Djoemana dalam Lurik: Garis-Garis Bertuah, tenun ini tampak sederhana dalam penampilan namun sarat dengan makna. Ia mengandung harapan, kesakralan, dan simbol. Di dunia modern ini pun ia terus digunakan dalam pelbagai upacara. Perlambang-perlambangnya masih diresapi, meski tidak sekuat di masa lalu. Pada upacara tujuh bulanan kandungan dan upacara labuhan, misalnya, lurik lasem dan kluwung, tuluh watu, serta dringin masing-masing menjadi syarat mutlak.

Kami pun kembali ke ruang tamu sehabis berkeliling di bengkel tenun. Seorang perempuan berbaju formal datang kemudian memilih kain di galeri. Saya melihat ia membeli tiga buah tenun tiga meter-an. Ia kelihatan akrab dengan ibu penjaga kasir. Meski lebih berfokus pada produksi kain saja, Kurnia memang memiliki banyak pelanggan tetap dan perempuan itu mungkin salah satunya.

Hanya saja, menurut Jussy, industri lurik tradisional memang tidak sebagus tiga atau empat dekade lalu. Di antara banyak sebabnya adalah hadirnya mesin-mesin penenun yang bisa menghasilkan lebih banyak kain dengan biaya produksi yang lebih murah. Beruntung Kurnia memiliki pelanggan yang setia. Lima pabrik lurik lain yang dulu pernah berdiri di Krapyak Wetan sudah lama gulung tikar.

Lurik mesin muncul membawa semangat modernitas yang instan dan massal. Namun demikian, tetap saja ada sesuatu yang istimewa dari lurik tradisional. “Nilainya berbeda,” kata Jussy. Saya mengerti. Romantisisme dan makna emosional tertentu selalu hadir bersama warisan leluhur. Ada apresiasi tinggi terhadap daya cipta dan ikhtiar manusia yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai ini menjadikan kita lebih menghargai benda-benda adati seperti lurik tradisional.

Advertisements

One thought on “Garis-Garis dan Setenun Makna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s