Kalau Tak Kenal, Panggil ‘Mas’ Saja

Mari kita artikan sapaan di sini sebagai kata atau frasa yang kita gunakan untuk merujuk lawan bicara dalam sebuah komunikasi. Beberapa di antaranya; seperti Ibu, Bapak dan Anda; berkaitan sangat erat dengan norma kesopanan.

Sapaan lain seperti Kau, Kamu dan semacamnya biasa ditujukan untuk mereka yang sudah akrab dengan atau ‘derajat’-nya sama atau lebih rendah dari pembicara secara sosial, profesional maupun usia—dalam hal ini lebih muda. Begitu pula dengan mereka yang kita rujuk dengan nama, entah panggilan atau bukan. Maka, sapaan-sapaan tertentu menyiratkan adanya usaha menghormati.

Saya belum lama lalu berkirim surat elektronik (surel) dengan dua alamat: satu untuk mendaftarkan diri menjadi anggota sebuah organisasi, satu untuk mencatatkan diri sebagai peserta sebuah acara halal bihalal. Dalam surel-surel tersebut saya berusaha untuk terdengar santun namun tidak formal.

Maksud saya adalah agar komunikasi berlangsung cair mengingat subjeknya bukan hal yang sangat serius. Di samping itu saya tidak ingin dikira berasal dari generasi Lewat Djam Malam dengan memakai bahasa yang, menurut rasa orang zaman kita, kaku.

Yang terjadi bukanlah hal besar sebenarnya. Hanya saja di dalam surel-surel balasan yang saya terima, para perwakilan organisasi dan panitia acara itu merujuk saya dengan sapaan Bapak sedangkan saya belum sampai kepala tiga, bujang dan karena itu wajar merasa masih mas-mas. Saya sama sekali tidak tersinggung, lebih terasa aneh saja. Ini pun dapat dimaklumi karena para pembalas surel tersebut dan saya belum pernah bertatap muka.

Walau begitu, pengalaman ini memunculkan pikiran bahwa penutur bahasa Indonesia perlu mencari sapaan yang bisa dibilang lebih nyaman untuk berkomunikasi secara semi- maupun nonformal maupun dengan orang yang belum pernah kita temui ataupun lihat. Kita memerlukan sesuatu yang netral namun tidak kaku—suatu sapaan seperti Ms. dalam bahasa Inggris untuk menyapa perempuan yang sudah menikah ataupun belum, baik tua maupun muda.

Memang ada Saudara dan Saudari dalam khazanah bahasa kita, tetapi agaknya keduanya memberi jarak terlalu jauh antara pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi kasual. Sementara sapaan Kakak ala pramuniaga di pusat pertokoan bisa jadi akan terdengar sok dekat kalau digunakan oleh orang dewasa.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu, jika saya tidak mengenal orang yang berkomunikasi tak langsung dengan saya, jika saya yakin tidak sedang berbicara dengan Morgan Freeman atau Meryl Streep, jika menurut saya ragam bahasa yang dipakai memungkinkan, saya biasanya memilih memakai Mas atau Mbak. Asal-mula mereka memang bahasa Jawa, tetapi saya kira sapaan-sapaan ini sudah cukup lazim dipakai dan dapat dimengerti di sebagian besar nusantara. Lagipula, keduanya telah tercantum di dalam KBBI.

Kenapa Mas dan Mbak? Saya punya tiga argumen. Pertama, Mas dan Mbak adalah sapaan yang akrab namun menghormati. Ini sesuai dengan fungsi yang diperlukan dalam komunikasi nonformal tak langsung yang saya maksudkan di atas. Anda bisa mengetahui jenis kelamin lawan komunikasi dengan melihat namanya, dan apabila nama itu uniseks—Reza atau Andi, misalnya—Anda selalu bisa menuliskan Mas/Mbak.

Kedua, saya kira hampir tak ada orang yang akan merasa terganggu seumpama dianggap lebih muda dari usia mereka sebenarnya selama kesopanan terjaga. Malah, kemungkinan orang akan merasa senang dengan itu. Sapaan ini juga sepertinya tidak terlalu terpengaruh oleh selisih umur di antara komunikan yang terlibat. Setahu saya banyak mahasiswa semasa kuliah dulu yang biasa memanggil beberapa dosen yang berusia jauh di atas mereka dengan panggilan Mas.

Alasan ketiga, yang terakhir, adalah orang Indonesia pada umumnya pernah dipanggil Mas atau Mbak baik saat masih kecil, dewasa, paruh baya, atau bahkan setelah memasuki usia senja. Keduanya lebih universal dalam hal usia, walaupun berbeda dalam hal gender. Jadi meski sudah beranak-pinak sekalipun, umumnya orang tak akan keberatan dirujuk dengan sapaan-sapaan ini.

Sampai sekarang saya masih mempraktikkan hal ini. Namun ada satu hal yang masih mengganjal, yaitu pertanyaan apakah orang dari etnik selain Jawa yang tidak familier dengan bahasa dan serapan Jawa umumnya akan dapat menerima sapaan ini senyaman yang saya rasakan. Nah, andaikan ini menjadi masalah, tentu saja kita harus tetap kreatif untuk mencari sapaan lain.

Advertisements

3 thoughts on “Kalau Tak Kenal, Panggil ‘Mas’ Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s