Apakah “Selera” Membutuhkan “Dengan”?

Seorang rekan di sebuah forum bertanya mengenai pemakaian kata sesuai: mana yang benar, “sesuai selera” atau “sesuai dengan selera”? Pertanyaan ini sederhana sekaligus menarik sehingga mengundang banyak jawaban dari rekan-rekan lain.

Beberapa berpendapat bahwa yang lebih benar adalah yang kedua, dan pengorupan preposisi (dalam hal ini, dengan) disebabkan oleh para pekerja media yang diharuskan mengirit ruang. Tetapi ada yang dengan tegas menyatakan kedua-duanya berterima dalam bahasa Indonesia. Pendapat saya berada di sisi yang sama dengan yang terakhir ini. Dan walaupun bukan seorang jauhari linguistik, izinkan saya menjelaskan alasan di baliknya.

Bila dicermati lebih jauh, sebenarnya masalah ini masih berakar pada debat klasik preskriptivisme melawan deskriptivisme. Secara sederhana, preskriptivisme menyarankan kita untuk selalu merujuk pada aturan baku dalam menentukan mana yang lebih baik. Sebaliknya, deskriptivisme lebih suka melihat kenyataan yang ada dan membuat suatu bentuk aturan dari sana, alih-alih menentukan mana yang lebih baik dari berbagai aspek.

Banyak orang menganggap ini sebagai persoalan hitam dan putih: jika bukan preskriptivis berarti Anda deskriptivis, dan sebaliknya. Akan tetapi, kita sering lupa bahwa kita bisa menjelma dua-duanya agar dapat menggunakan bahasa secara lentur dan efektif.

Pertama-tama, mari kita berperan sebagai deskriptivis. Dengan begini, kita akan menganggap “sesuai selera” juga valid sebagai wujud bahasa. Ia ada, berterima menurut, dan dapat jelas dipahami oleh pengguna bahasa Indonesia. Perlu ditekankan juga bahwa “sesuai selera” bukan bentuk yang salah – sebaiknya kita hindari pengategorian salah atau benar dalam diskusi linguistik seperti ini karena penggunaan bahasa cenderung soal tepat atau tidak tepat.

Kemudian, kita tinjau masalah ini dari sudut lain. Sebagai preskriptivis, kita bisa menilai “sesuai dengan selera” adalah bentuk yang lebih baik karena lebih tepat menurut paramasastra bahasa Indonesia – sesuai adalah adjektiva, dan sebab itu harus diikuti preposisi dengan sebelum berhubungan dengan nomina selera. Maka, jika dan hanya jika membutuhkan wujud bahasa formal, saya akan selalu menggunakan “sesuai dengan selera”.

Deskriptivisme memberikan kita pilihan yang fleksibel dan preskriptivisme membantu kita menilai mana yang lebih tepat digunakan. Jadi, baik “sesuai dengan selera” maupun “sesuai selera” sah untuk kita pilih dan gunakan. Di antara keduanya tidak ada yang lebih benar, hanya saja salah satunya akan lebih tepat menurut konteks yang kita hadapi.

Seingat saya, saya lebih sering menggunakan “sesuai dengan selera” karena lebih tepat secara gramatikal. Namun seandainya saya membuat puisi yang membutuhkan enam suku kata saja atau saat membuat tweet, saya akan memakai “sesuai selera”.

Advertisements

2 thoughts on “Apakah “Selera” Membutuhkan “Dengan”?

    • Saya memilih pengorupan karena berusaha mengikuti apa yang sering disebut kaidah KPST. Secara garis besar menurut kaidah ini, peluluhan di awal kata terjadi pada kata-kata yang huruf pertamanya k, p, s, atau t dan huruf keduanya vokal ketika diimbuhi prefiks me- dan pe- serta konfiks pe-an, misalnya pukul-memukul-pemukul-pemukulan, satu-menyatukan-penyatu-penyatuan, tambal-menambal-penambal-penambalan, dan, untuk kata korup, korup-mengorup-pengorup-pengorupan. Tetapi kaidah KPST juga memiliki beberapa pengecualian, misalnya untuk kata punya, kaji, dan syair sebagaimana dijelaskan di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s