Catatan Singkat tentang Negeri Jiran dan Para Perantau Dermawan

Desember tahun lalu adalah kali pertama saya mengunjungi Malaysia. Agenda pelancongan ini menjenguk saudara dan nonton Timnas main di Piala AFF 2012. Saya sempat menyinggahi dua tempat: Pulau Pinang di lepas pantai sebelah barat semenanjung, lalu Kuala Lumpur di selatan. Tentu saja, saya berharap untuk mendapatkan pengalaman menarik di bangsa yang sering dipandang secara antagonistik oleh banyak dari kita orang Indonesia.

Kata jiran, seperti yang anda ketahui, diserap dari bahasa Arab yang artinya tetangga. Maka selayaknya saat bertamu ke tetangga samping rumah, saya berusaha untuk membuang jauh-jauh prasangka buruk tentangnya. Akan tetapi, ketika berada di dalam taksi dari bandara ke penginapan di Pulau Pinang, masih saja ada keraguan untuk sekadar berbicara tentang pertandingan sepak bola yang dihelat sebentar lagi itu. Dengan naif, saya khawatir kalau-kalau sopir taksi, yang selama lima menit pertama perjalanan diam, akan mengurangi kualitas pelayanannya setelah mengetahui penumpangnya dari Indonesia.

“Ini mau lihat bola, tapi mampir Pinang dulu,” saya akhirnya membuka obrolan.

“Oh, lawan Malaysia? Ha-ha. Pertandingan akan ramai besok,” kata Pak Sopir yang saya kira berusia 40-an tahun itu. Badannya kurus, tulang pipinya menonjol. Pria berkumis tipis yang tadinya terlihat lesu itu seperti terjaga dari kantuk. Tidak berhenti di sana, ia lanjut bercerita macam-macam tentang sepak bola, Pulau Pinang, pengalamannya berwisata ke Danau Toba, sampai hubungan antara orang Indonesia dan Malaysia.

“Dulu iya [ada kebencian dari orang Malaysia ke orang Indonesia], sekarang sudah tidak lagi. Banyak orang Indonesia yang datang ke sini, begitu pula sebaliknya. Sama-sama lah. Kami pun banyak saudara tinggal di Indonesia,” katanya seiring kami mencapai belokan terakhir menuju penginapan yang terletak di sebuah jalan kecil di Georgetown. Ucapannya mungkin sekadar basa-basi pekerja industri horeka terhadap wisatawan, namun saya memilih percaya saja.

Setelah membantu menurunkan muatan, sang sopir pamit sembari mengingatkan kalau mau ke KL, naik bus langsung dari Terminal Sungai Nibong saja bisa, tak perlu menyeberang ke semenanjung (saat itu saya memang belum tahu mau naik apa dari Pulau Pinang ke Kuala Lumpur). Saya berterima kasih kepadanya—atas tumpangannya, sarannya, dan atas “sambutan” hangatnya.

Bedanya di fasilitas

“Kota yang baik itu bukan kota yang penduduk miskinnya bisa beli kendaraan pribadi, tapi yang orang kayanya mau naik angkutan umum.” – Enrique Peñalosa, Walikota Bogota 1998-2001

Saya tak tahu banyak tentang Malaysia, ini hanya yang saya saksikan saja. Sanggraloka-sanggraloka yang saya kunjungi di sana memang elok, tapi yang sangat terasa bedanya bagi saya adalah fasilitas umumnya, terutama transportasi.

Akui saja, penduduk kota besar bangsa kita ini akrab dengan kemacetan lalu lintas. Tak usah sebut Jakarta, Yogyakarta pun sudah mulai terasa semakin padat. Sebabnya tak lain adalah kurangnya angkutan umum yang baik sehingga orang-orang, termasuk saya sendiri, lebih memilih memakai kendaraan pribadi. Ini pilihan yang wajar, walaupun tidak baik untuk jangka panjang.

Jaringan bus dalam kota (Pulau Pinang dan KL) dan MRT (KL) terasa seperti kemewahan bagi saya. Stasiun dan terminal busnya sama sekali tidak kotor—bahkan ada semacam pasar suvenir dan buku impor seperti di Gramedia di tengah Stasiun KL Central. Angkutan-angkutannya sangat nyaman, tidak sumpek, dan tepat waktu. Tidak heran turis-turis asing dan warga ber-tablet PC memenuhi tempat duduk di dalamnya.  Lebih dari itu, baik layanan kereta maupun bus ini memiliki jangkauan yang luas. Rapid Penang menjangkau hingga Batu Feringhi di pojok barat laut pulau; kereta komuter di KL sejak tahun 2010 sudah mencapai jauh ke kompleks kuil Batu Caves di utara pusat kota. Ini mungkin bisa diibaratkan seperti Trans Jogja yang beroperasi dari Pantai Parangtritis hingga Kaliurang—dengan kualitas bus dan jumlah armada yang lebih memadai tentunya.

Mungkin juga ada yang harus kita pelajari dari cara Malaysia mengemas objek wisatanya. Ketika saya bertemu wisatawan dari Jawa di Batu Caves, dia bilang, “Biasa wae, Mas. Masih bagus Prambanan toh?” Yang dia maksud adalah Candi Prambanan di pinggiran Yogyakarta dan sepertinya tidak ada yang salah dengan pendapatnya. Malaysia tampak pandai betul mengubah suatu tempat menjadi tujuan melancong yang menarik dan mudah didatangi.

Transportasi publik menuju ke sana dan fasilitas untuk membuat nyaman pengunjung secara umum lebih baik daripada yang kita punya di Indonesia. Kalau anda bertanya kepada saya seperti apa Penang Hill itu, saya akan menjawab mirip Bukit Bintang di Jalan Yogya-Wonosari, kecuali lebih hijau dan dilengkapi dengan kereta kabel pengangkut serta teropong untuk menikmati landscape yang menghampar di bawah.

Mata awam saya masih melihat fanatisme agama di sana. Tak sedikit tunawisma yang menghuni pinggiran jalan dan sepertinya masih ada pembedaan perlakuan berdasarkan etnis yang tak terkatakan—seperti di Indonesia yang masih sulit menerima pemimpin dari etnis atau agama minoritas. Namun paling tidak soal fasilitas umum dan mengurus kota, jiran ini lebih maju daripada kita.

Dua perantau dermawan

Tiga kali saya berjumpa TKI di Malaysia, dua yang terakhir meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Dari dua ini, yang pertama saya temui di bus menuju Stadion Bukit Jalil. Saya berangkat bersama rombongan mahasiswa Indonesia dan kebetulan duduk bersamping-sampingan dengan seorang pria asal Klaten yang bekerja di pom bensin Petronas.

Seperti biasanya di dalam angkutan umum, obrolan acak akan berlangsung cepat atau lambat. Hanya saja, hal pertama yang diobrolkan mas-mas di samping saya itu tidak biasa. Setelah berkenalan, dia diam sejenak. Lalu dengan raut muka lempeng dia bertanya, “Kalau menurut Mas, siapa yang bisa saya pilih di Pemilu 2014 nanti?”

Saya jawab terus terang bahwa saya juga tidak tahu karena, ya, saya sendiri masih bingung. Saya lalu ceritakan saja kepada Mas Bambang, sebut saja begitu, beberapa nama yang disebut-sebut di media massa, termasuk… mmm… Rhoma Irama. Sambil bicara, saya diam-diam terkesan dengan Mas Bambang ini. Sementara banyak orang bersikap apatis terhadap politik dalam negeri, dia yang hidup di rantauan masih peduli tentang gambar siapa yang harus dicentang untuk pemilu.

Sudah lima tahun dia tinggal di Malaysia dengan pekerjaan yang katanya, “lebih masuk akal daripada di Indonesia.” Dia bercerita sedikit kepada saya tentang pengalamannya di sana—tentang subsidi rumah sakit dari pemerintah Malaysia yang pernah ia terima, tentang upahnya yang “sehari kerja bisa untuk makan beberapa hari”, tentang bagaimana ia sering rindu rumah.

Sekitar satu setengah jam perjalanan dari Cyberia ke Bukit Jalil jadi berlalu begitu saja. Kemudian sebelum turun bus—ini yang bikin saya kaget—dia tiba-tiba memberikan uang 50 ringgit (kurang lebih Rp150.000) kepada saya. Dia bilang buat uang saku (mungkin karena saya sebelumnya berkata bahwa saya di Malaysia cuma sebentar karena minimnya anggaran). Uang itu saya tolak dengan sopan, bukan karena tidak butuh, tetapi karena dia sudah memberi saya banyak bekal cerita mengesankan dalam waktu yang singkat itu.

Perantau berikutnya saya temui pintu masuk Batu Caves, Kuala Lumpur. Pemuda yang ramah dan kocak itu menyela ketika saya bertanya kepada saudara saya dengan bahasa Jawa tentang apakah harus membeli tiket masuk. “Wis mlebu ae, Mas. Ora mbayar. Wong ngendi ta sampeyan?” (“Sudah masuk saja, Mas. Nggak bayar. Orang mana sih anda?”) Saya terkejut juga, lalu saya bilang, “Orang Yogya, Mas. Lha Mas dari mana kok ngomong Jawa?”

“Aku orang Madura, tapi Madura Hindu. Ini mau sembahyang,” jawab pemuda bertubuh kecil dan berkulit legam itu.

Wah, baru dengar kali ini saya tentang Madura Hindu. Saya beranjak masuk bersama Mas Sugeng, sebut saja namanya begitu, sambil berhenti setiap beberapa meter untuk mengambil gambar. Tampaknya Mas Sugeng tidak sabar menunggu. “Sudah kamu foto-foto sana. Aku mau naik ke gua, nanti kita ketemu di bawah sini ya. Ngobrol-ngobrol dulu,” katanya.

Sore harinya kami bertemu di bawah tangga kuil. Mas Sugeng menghampiri saya dan langsung mengajak masuk kedai makan Tamil. “Pesen saja. Aku traktir,” ujarnya. Saya merasa tidak enak, jadi hanya pesan es teh tarik saja tanpa makanan. “Orang Jawa itu sukanya basa-basi. Kalau orang Madura kayak saya ya kalau lapar yang bilang lapar. Makan banyak. Ha-ha,” kelakarnya.

Sebenarnya, percakapan kami di restoran itu lebih mirip kuliah daripada obrolan karena Mas Sugeng yang lebih banyak bicara. Saya dan saudara saya mendengarkan saja walaupun sesekali bertanya. Dia bicara banyak tentang konsep-konsep dalam Hinduisme (di antaranya tentang pengutamaan manusia, lalu lingkungan, dan yang terakhir Dewa—karena Dewa toh tidak akan apa-apa kalau kita tidak menyembahnya), kenapa tidak banyak TKI dari Sidoarjo di Malaysia (yang menurutnya karena di Sidoarjo banyak pabrik sehingga tenaga kerja terserap), tentang kenapa TKI “kosong” dari Jawa di Malaysia menolak berbahasa Jawa, hingga tentang secuil cerita mengenai orang Madura Hindu yang katanya saat ini sudah tersingkir dari Pulau Madura oleh orang Islam dan banyak yang tinggal di Kediri.

Oh, dia juga cerita tentang banyaknya pejabat pemerintahan Malaysia yang memiliki darah Jawa. “Di Trengganu dan Johor terutama banyak orang keturunan Jawa. Makanya di sini juga ada wayang kulit, walaupun nggak sebagus yang aslinya di tempat kita,” katanya.

Mas Sugeng bekerja di bidang bangunan. “Tukang pasang pipa” istilah yang dia pakai. Dia sudah 10 tahun tinggal di Malaysia. Ia sendirian, anak-istrinya menetap di Kediri. “Orang Indonesia itu pintar berdebat, tapi nggak bisa buat lapangan kerja. Ha-ha,” katanya sambil tertawa. Ia mengaku ingin kembali ke Jawa, tapi kalau sudah pulang tidak tahu mau kerja apa.

Sore itu kami kembali ke kota naik kereta yang sama. Tiket saya dibelikan oleh Mas Sugeng, berikut suvenir dari Batu Caves. Dia menolak uang pengganti yang saya sodorkan.

Terus aku kudu kepiye, Mas?” kata saya.

Muni ‘alhamdulillah’ ngono to yo,” jawabnya.

“Alhamdulillaaaaahhhhhh!” saya bilang.

Mas Sugeng tertawa melihat saya, lalu mendekati saya. Ia memberi semacam wejangan yang saya ingat betul-betul:

”Sudah, ini yang bisa saya berikan. Tugasmu sebagai orang yang berpendidikan lebih berat. Pulang ke Indonesia kamu harus bisa bikin lapangan kerja, biar anak-anakmu nggak usah pergi jauh-jauh dari rumah.”

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Singkat tentang Negeri Jiran dan Para Perantau Dermawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s