Do You Speak Bahasa?

Saya samar-samar ingat di waktu silam saya harus meyakinkan seorang pelanggan bahwa Kawah Ijen cukup diterjemahkan menjadi Ijen Crater saja, tidak perlu Kawah Ijen Crater. Itu akan menjadi kemubaziran karena kawah berarti ‘bagian puncak gunung berapi yg dilewati bahan letusan berbentuk lekukan besar’ (KBBI), yang sepadan dengan pengertian lema crater dalam kamus-kamus bahasa Inggris.

Mungkin pelanggan saya itu memiliki timbangan bahwa Kawah Ijen sudah terlanjur dikenal secara internasional sebagai semacam merek, jadi harus dijaga keutuhannya meski harus sedikit “membodohi” diri sendiri dan pembaca. Dan mengorbankan efisiensi.

Saya juga ingat ketika harus menerjemahkan Estádio do Dragão, stadion sepakbola yang menjadi kandang klub Portugal, FC Porto. Pilihan yang tersedia bagi saya adalah tetap menggunakan nama aslinya dalam bahasa Portugis atau menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, yakni menjadi Stadion Dragão. Saya tidak bisa mempertimbangkan opsi Stadion Estádio do Dragão.

Terkadang penerjemahan suatu nama atau istilah memang dihadapkan pada hal-hal seperti ini. Nama yang telah dikenal luas dalam bahasa asalnya bisa jadi sulit diterjemahkan karena akan mengganggu apa yang sudah tersimpan di dalam ingatan khalayak.

Namun demikian, sebagai orang yang menerjemahkan – yang tentu tidak harus seorang penerjemah – kita sebaiknya jeli melacak makna kata-kata penyusun istilah supaya dapat melakukan alih bahasa secara cermat. Terkadang demi efisiensi, terkadang demi kebenaran.

***

Kemarin saya membaca ulang kolom lawas Salomo Simanungkalit yang ditulis pada 2004. Di situ beliau mengeluh tentang penggunaan kata bahasa dalam bahasa Inggris, misalnya “Do you speak Bahasa?Bahasa di sini merujuk pada bahasa Indonesia.

Dari amatan saya terhadap sekitar, memang banyak orang ketika berbahasa Inggris memilih merujuk bahasa Indonesia cukup dengan Bahasa saja. Berbeda dengan kasus-kasus di awal yang merupakan kemubaziran (redundancy), keadaan ini menunjukkan korupsi. Anehnya, yang melakukannya termasuk teman-teman penutur asli bahasa Indonesia sendiri.

Kita, penutur asli bahasa Indonesia yang berbahasa Inggris, sudah tahu apa yang tidak tepat di sini sekaligus cara memperbaikinya (memakai Indonesian atau bahasa Indonesia). Perlu dipelajari lebih lanjut kenapa bahkan setelah satu dekade tulisan Pak Solomo terbit kita masih – meminjam kata-kata beliau – “membeo orang asing.”

Pemakaian kata Bahasa dalam perkara ini adalah keluputan yang kita sadari. Tetapi mungkin karena awalnya dilakukan oleh bangsa yang lebih maju, kita jadi manut saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s