Tawaran dan Penawaran

Bahasa Indonesia—perkenankan saya untuk memulai tulisan ini dengan perkataan klise tetapi benar adanya—adalah sebuah bahasa yang sesungguhnya cukup kaya dengan segala keanekaragaman yang dikandungnya. Maka, sebaiknya kita cegah segala pemiskinan karena alasan-alasan tidak perlu, apalagi ketika hal itu sebenarnya bisa kita hindari tanpa bersusah payah.

Setiap kali menemuinya di perempatan, atau pun di banyak tempat lain secara daring dan luring, saya selalu terusik dengan kata penawaran. Dalam proses penerjemahan, banyak penggunaan kata ini merupakan pemadanan dari kata bahasa Inggris offer. “Penawaran terbatas!” misalnya, kemungkinan besar merupakan terjemahan dari “Limited offer!

Memang tidak ada masalah komunikasi di sini, dan setiap orang yang melihatnya saya pikir akan mampu menangkap maksud seruan rayu khas pertokoan tersebut. Hanya saja, dari sudut pandang morfologis, penggunaan penawaran ini pantas disayangkan karena merupakan kemubaziran alias sesuatu tidak perlu.

Dalam morfologi bahasa Indonesia yang bisa kita pelajari di antaranya melalui buku Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia karya Harimurti Kridalaksana, kita mengenal akhiran -an yang salah satu fungsinya adalah mengubah verba menjadi nomina yang berarti ‘apa yang di-‘. Melalui proses afiksasi menggunakan akhiran ini, kita mendapatkan kata minuman (apa yang diminum) dan makanan (apa yang dimakan). Lewat proses ini pula hendaknya verba tawar kita proses secara efisien, sehingga kita memperoleh nomina tawaran. Dan apa lagi makna penawaran dalam konteks yang saya telah sebutkan di awal jika bukan ‘apa yang ditawarkan’?

Di sisi lain, penawaran mengalami proses pembentukan yang berbeda dan memiliki makna yang lain pula. Penawaran merupakan hasil afiksasi menggunakan konfiks pe-an yang mengubah verba menjadi nomina yang merujuk pada ‘proses’. Dengan begitu, penawaran sesungguhnya adalah ‘proses menawarkan’. Dari sini kita bisa melihat ketidaktepatan ketika penawaran dianggap bermakna ‘apa yang ditawarkan’.

Akan tetapi, kita sebaiknya memakai tawaran alih-alih penawaran bukan hanya karena yang pertama adalah kata yang secara gramatikal tepat. Saya kira setidaknya ada dua alasan yang lebih berdasarkan pada aspek-aspek praktis, yang bisa jadi malah lebih persuasif bagi kita untuk mengikuti pendapat ini.

Pertama, tawaran terbentuk dari tujuh huruf saja dibandingkan dengan penawaran yang sembilan huruf. Ini suatu hal yang perlu dipertimbangkan terutama jika Anda mengurusi teks terjemahan daring, yang sering kali menyediakan ruang yang terbatas. Alasan yang kedua, penawaran mestinya dibiarkan saja untuk makna ‘proses, cara, perbuatan menawari atau menawarkan’ (KBBI IV). Tidak perlu ia kita paksa untuk mengemban makna ‘apa yang ditawarkan’ yang toh sudah menjadi hak tawaran.

Ya, kata-kata agaknya perlu dibantu dan diawasi agar berfungsi sesuai hak dan kewajiban masing-masing supaya tidak bertumpang-tindih dan bersengketa, supaya keberadaannya tidak sia-sia. Lebih dari itu, semua ini pun ada manfaatnya bagi pengguna bahasa Indonesia, khususnya penerjemah.

Untuk menerjemahkan dua nomina bahasa Inggris offering (perbuatan menawarkan) dan offer (apa yang ditawarkan), misalnya, kita bisa menggunakan dua nomina yang berbeda pula: penawaran dan tawaran. Pas dan mudah bukan?

—–

Catatan: Kasus ini mengingatkan saya pada persoalan yang sangat lazim kita temui menyangkut kata ubahan dan perubahan. Konon begawan linguistik Indonesia almarhum Anton Moeliono dulu selalu berkeras memakai ubahan alih-alih perubahan untuk merujuk makna ‘hasil dari pengubahan’ atau ‘apa yang diubah’, mungkin dengan alasan morfologis yang agak mirip dengan yang saya paparkan di sini. Sayangnya, penggunaan perubahan yang kurang tepat seperti sudah mengakar begitu kuat dalam komunikasi sehari-hari kita sehingga sulit dicabut.

Advertisements

One thought on “Tawaran dan Penawaran

  1. Setuju.
    Masih satu topik dengan kasus di atas, yaitu afiksasi, dan kebetulan disebut juga, gimana penjelasan untuk kata “perubahan”? Apa itu baku dan tepat guna–sementara untuk memaknai “apa yang diubah” udah bisa cukup gunain “ubahan” dan untuk memaknai “proses mengubah” udah ada kata “pengubahan”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s