Catatan Singkat tentang Negeri Jiran dan Para Perantau Dermawan

Desember tahun lalu adalah kali pertama saya mengunjungi Malaysia. Agenda pelancongan ini menjenguk saudara dan nonton Timnas main di Piala AFF 2012. Saya sempat menyinggahi dua tempat: Pulau Pinang di lepas pantai sebelah barat semenanjung, lalu Kuala Lumpur di selatan. Tentu saja, saya berharap untuk mendapatkan pengalaman menarik di bangsa yang sering dipandang secara antagonistik oleh banyak dari kita orang Indonesia.

Kata jiran, seperti yang anda ketahui, diserap dari bahasa Arab yang artinya tetangga. Maka selayaknya saat bertamu ke tetangga samping rumah, saya berusaha untuk membuang jauh-jauh prasangka buruk tentangnya. Akan tetapi, ketika berada di dalam taksi dari bandara ke penginapan di Pulau Pinang, masih saja ada keraguan untuk sekadar berbicara tentang pertandingan sepak bola yang dihelat sebentar lagi itu. Dengan naif, saya khawatir kalau-kalau sopir taksi, yang selama lima menit pertama perjalanan diam, akan mengurangi kualitas pelayanannya setelah mengetahui penumpangnya dari Indonesia.

“Ini mau lihat bola, tapi mampir Pinang dulu,” saya akhirnya membuka obrolan.

Continue reading

Korban Bunuh Diri

Hidup?

Pada November lalu, Metrotvnews.com memberi judul “Tim SAR Temukan Jenazah Korban Bunuh Diri” untuk sebuah berita mereka tentang seorang pria yang mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Siak, Pekanbaru, karena menganggur dan tekanan ekonomi. Penggunaan kata korban di dalam judul itu membuat saya termenung. Ternyata beberapa media massa Indonesia menyebut pelaku bunuh diri sebagai korban dan saya sendiri baru menyadari ini sekitar tiga bulan silam dari sebuah artikel di harian Kedaulatan Rakyat.

Perihal kata korban ini menarik dipandang dari segi bahasa. Jika memang dilakukan secara sadar, penggunaan kata korban untuk merajuk seorang pelaku bunuh diri mengisyaratkan bahwa kita tidak gegabah dalam menilai sesuatu – lebih bijak dalam memandang perilaku orang lain.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa bunuh diri adalah hal yang baik ataupun membenarkan tindakan itu. Akan tetapi, bunuh diri biasanya adalah respon atas suatu impuls dari luar diri. Penting bagi kita untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan mengetahui impuls tersebut.

Continue reading

Batik

SBY dan Bill Gates pakai kemeja batik.

Hari ini, 2 Oktober, ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai hari batik nasional sejak dua tahun lalu saat Unesco mengakui batik sebagai warisan budaya dunia. Maka, tiap tahun ada semacam perayaan, atau lebih tepatnya, pemberian nasehat-nasehat untuk melestarikan kain dari khasanah budaya Jawa tersebut.

Pelbagai komentar bemunculan. Dukungan banyak, kritik juga tak sedikit. Ada yang ketakutan batiknya dicuri orang Malaysia. Ada yang mengagung-agungkan budaya nenek moyangnya ini — meski tak tahu cara bikin dan tak punya pengetahuan secuilpun tentangnya. Kebetulan yang mencuri perhatian saya adalah pendapat yang menyatakan bahwa presiden harus coba pakai koteka kalau mau paksa orang Papua pakai batik. Jadi, ada anggapan hari batik nasional adalah wujud superioritas Jawa — Pram bilang, Jawanisme — di Indonesia sehingga budaya-budaya yang lain dikecilkan.

Continue reading

Melayat

Siang tadi, aku melayati bapak seorang sahabat. Beliau meninggal kemarin sore, tapi aku tak dapat segera berkunjung karena sedang tak sehat. Cuaca Jogja akhir-akhir ini memang dingin dan badanku takluk juga padanya.

Kusambangi rumah sahabatku itu sendirian. Kawan-kawan lain sudah melayat kemarin malam dan tadi pagi, sementara aku sibuk menguras ingus. Ini bapak dari teman lama, orang yang dulu sering berbagi masa denganku. Maka, aku harus datang.

Orang-orang telah berhamburan di depan gang rumahnya di selatan Plengkung Gading. “Terlambat,” batinku. Benar juga, ketika aku masuk halaman rumah duka, hanya kulihat ibu sahabatku itu. Seseorang memberitahuku bahwa jenazah telah diangkut ke kuburan.

Continue reading