Korban Bunuh Diri

Hidup?

Pada November lalu, Metrotvnews.com memberi judul “Tim SAR Temukan Jenazah Korban Bunuh Diri” untuk sebuah berita mereka tentang seorang pria yang mengakhiri hidupnya dengan terjun ke Sungai Siak, Pekanbaru, karena menganggur dan tekanan ekonomi. Penggunaan kata korban di dalam judul itu membuat saya termenung. Ternyata beberapa media massa Indonesia menyebut pelaku bunuh diri sebagai korban dan saya sendiri baru menyadari ini sekitar tiga bulan silam dari sebuah artikel di harian Kedaulatan Rakyat.

Perihal kata korban ini menarik dipandang dari segi bahasa. Jika memang dilakukan secara sadar, penggunaan kata korban untuk merajuk seorang pelaku bunuh diri mengisyaratkan bahwa kita tidak gegabah dalam menilai sesuatu – lebih bijak dalam memandang perilaku orang lain.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa bunuh diri adalah hal yang baik ataupun membenarkan tindakan itu. Akan tetapi, bunuh diri biasanya adalah respon atas suatu impuls dari luar diri. Penting bagi kita untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan mengetahui impuls tersebut.

Continue reading

Batik

SBY dan Bill Gates pakai kemeja batik.

Hari ini, 2 Oktober, ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai hari batik nasional sejak dua tahun lalu saat Unesco mengakui batik sebagai warisan budaya dunia. Maka, tiap tahun ada semacam perayaan, atau lebih tepatnya, pemberian nasehat-nasehat untuk melestarikan kain dari khasanah budaya Jawa tersebut.

Pelbagai komentar bemunculan. Dukungan banyak, kritik juga tak sedikit. Ada yang ketakutan batiknya dicuri orang Malaysia. Ada yang mengagung-agungkan budaya nenek moyangnya ini — meski tak tahu cara bikin dan tak punya pengetahuan secuilpun tentangnya. Kebetulan yang mencuri perhatian saya adalah pendapat yang menyatakan bahwa presiden harus coba pakai koteka kalau mau paksa orang Papua pakai batik. Jadi, ada anggapan hari batik nasional adalah wujud superioritas Jawa — Pram bilang, Jawanisme — di Indonesia sehingga budaya-budaya yang lain dikecilkan.

Continue reading

Olahraga

Yang akan saya bicarakan ini sebenarnya pernah dibahas secara ringkas oleh Guru Besar Seni Rupa ITB Sudjoko (alm) dan juga Goenawan Mohamad. Saya ingin sekadar membagikan lagi apa yang saya dapat dari pandangan beliau-beliau di atas.

Tak lama lalu, saya membaca obrolan singkat seorang suporter klub Arsenal di dunia maya. Ia dengan guyon berkata, “It’s man sitting on a machine.”  Omongannya itu tentang balapan Formula 1 yang tidak dianggapnya olahraga (sport).

Mungkin ia keliru. Menurut saya, balapan Formula 1 itu sport, tapi bukan olahraga.

Continue reading

Maaf

By using stale metaphors, similes, and idioms, you save much mental effort, at the cost of leaving your meaning vague, not only for your reader but for yourself (George Orwell)

Tiap Lebaran tiba kita dipaksa akrab dengan permohonan maaf. Keluarga dan handai tolan mengucap maaf secara bertubi-tubi, meski hanya lewat pesan pendek dan tanpa menyebut nama orang yang dituju. Frasa yang digunakan umumnya sama dan membosankan: mohon maaf lahir batin.

Semua ini telah menjadi tradisi yang mengakar sedemikian kuat dalam sebagian besar masyarakat Indonesia — konon maaf-maafan ini khas Nusantara. Hanya saja setiap tradisi dibentuk dengan pengulangan. Sebab itu wajar diragukan apatah orang-orang bersungguh-sungguh saat mengucap ‘mohon maaf lahir batin’. Sedangkan memahami maknanya saja belum tentu.

Bahasa pada dasarnya berlaku untuk menyatakan pikiran, yaitu agar orang lain mengetahui apa yang ada dalam kepala kita dan kemudian memberi tanggapan. Sebagai medium, bahasa tak ubahnya alat. Konsekuensinya, ia tunduk kepada tuannya. Jadi ada benarnya kalau orang Arab bilang ‘lidahmu pedangmu’. Pedang dapat digunakan untuk memotong daging makanan atau menebang pohon buat bikin rumah. Tetapi jika si pengguna hilang kesadaran, pedang itu dapat saja memotong tangannya sendiri. Maka, benar saja tak cukup. Laiknya pedang, sebaik-baik bahasa adalah yang juga digunakan secara sadar.

Ketika orang menyambalewa dengan permohonan maafnya, yaitu dengan kalimat yang asal comot dan semacam templat saja, kemungkinan ia tidak melakukannya dengan penuh kesadaran. Jika sudah begitu, ucapannya akan menjadi sekadar formalitas. Ada jarak antara ujaran dan pikiran yang jujur dari dirinya. Jarak yang sama juga memisahkan antara kata-kata dan perbuatan.

Melayat

Siang tadi, aku melayati bapak seorang sahabat. Beliau meninggal kemarin sore, tapi aku tak dapat segera berkunjung karena sedang tak sehat. Cuaca Jogja akhir-akhir ini memang dingin dan badanku takluk juga padanya.

Kusambangi rumah sahabatku itu sendirian. Kawan-kawan lain sudah melayat kemarin malam dan tadi pagi, sementara aku sibuk menguras ingus. Ini bapak dari teman lama, orang yang dulu sering berbagi masa denganku. Maka, aku harus datang.

Orang-orang telah berhamburan di depan gang rumahnya di selatan Plengkung Gading. “Terlambat,” batinku. Benar juga, ketika aku masuk halaman rumah duka, hanya kulihat ibu sahabatku itu. Seseorang memberitahuku bahwa jenazah telah diangkut ke kuburan.

Continue reading

PSSI Akhir Minggu Ini

Di tengah cuaca Sabtu siang yang menyengat begini, saya memilih memantengi layar komputer di dalam rumah. Linimasa Twitter pun mulai berputar tak henti-henti, dan sayup-sayup suara handai tolan mulai terdengar, membisikkan rencana-rencana akhir pekan mereka. “The Cranberries akan pentas nanti malam… Briliant at Breakfast akan main di Teater Garasi… Sebuah bazaar makanan sudah buka dari pagi tadi di kawasan UGM…” Dolores dan zombienya akan terdengar mengasyikkan di malam hari, begitu juga biasanya pertunjukan musik dan bazaar makanan. Duh, andai saja nanti malam tidak ada pertandingan Indonesia vs Turkmenistan.

Saya, dan mungkin banyak yang lain, lebih menunggu-nunggu akan pertandingan itu dibanding acara lain akhir minggu ini. Bukan karena ingin menyaksikan pembalasan dendam atas kekalahan kita akan Turkmenistan sebelumnya, tapi karena pertandingan itu menandai kembalinya striker terbaik kita, Boaz Salossa, serta dimulainya sebuah era baru PSSI.

Era baru? Sebentar, saya yakin banyak yang akan mengerenyitkan dahi.

Continue reading

Messi Needs a Gago to Tango

Gago dan Messi setelah pertandingan melawan Kosta Rika

Argentina membutuhkan kemenangan atas Kosta Rika agar lolos dari babak kualifikasi setelah dua hasil imbang sebelumnya. Dengan tidak mengecilkan performa Bolivia dan Kolombia, yang memang tampil sangat solid, penampilan Tim Tango ini banyak dibilang mengecewakan. Hasil imbang yang didapat bukan akibat kesialan, tapi lebih karena alasan teknis.  Rasa frustrasi mulai membumbung di kubu tuan rumah Copa America 2011 itu. Sang megabintang Lionel Messi pun dijadikan kambing hitam, meski ia bukan pemain terburuk di dua pertandingan itu.

Fans Argentina layak kesal saat peluit wasit menyudahi pertandingan melawan Kolombia. Skor berakhir kacamata dengan Sergio Romero sebagai pahlawan. Ia-lah yang menghalau sepakan kencang pencetak 15 gol di Piala Europa musim ini, Falcao. Sebuah lelucon terjadi ketika Messi mengarahkan tendangan bebasnya jauh ke atas. Ia mungkin mengincar burung yang sedang lewat.

Continue reading