Tawaran dan Penawaran

Bahasa Indonesia—perkenankan saya untuk memulai tulisan ini dengan perkataan klise tetapi benar adanya—adalah sebuah bahasa yang sesungguhnya cukup kaya dengan segala keanekaragaman yang dikandungnya. Maka, sebaiknya kita cegah segala pemiskinan karena alasan-alasan tidak perlu, apalagi ketika hal itu sebenarnya bisa kita hindari tanpa bersusah payah.

Setiap kali menemuinya di perempatan, atau pun di banyak tempat lain secara daring dan luring, saya selalu terusik dengan kata penawaran. Dalam proses penerjemahan, banyak penggunaan kata ini merupakan pemadanan dari kata bahasa Inggris offer. “Penawaran terbatas!” misalnya, kemungkinan besar merupakan terjemahan dari “Limited offer!

Memang tidak ada masalah komunikasi di sini, dan setiap orang yang melihatnya saya pikir akan mampu menangkap maksud seruan rayu khas pertokoan tersebut. Hanya saja, dari sudut pandang morfologis, penggunaan penawaran ini pantas disayangkan karena merupakan kemubaziran alias sesuatu tidak perlu.

Continue reading

Do You Speak Bahasa?

Saya samar-samar ingat di waktu silam saya harus meyakinkan seorang pelanggan bahwa Kawah Ijen cukup diterjemahkan menjadi Ijen Crater saja, tidak perlu Kawah Ijen Crater. Itu akan menjadi kemubaziran karena kawah berarti ‘bagian puncak gunung berapi yg dilewati bahan letusan berbentuk lekukan besar’ (KBBI), yang sepadan dengan pengertian lema crater dalam kamus-kamus bahasa Inggris.

Mungkin pelanggan saya itu memiliki timbangan bahwa Kawah Ijen sudah terlanjur dikenal secara internasional sebagai semacam merek, jadi harus dijaga keutuhannya meski harus sedikit “membodohi” diri sendiri dan pembaca. Dan mengorbankan efisiensi.
Continue reading

Kuliner sebagai Kata

Mungkin berkat jasa Pak Bondan dan acara televisinya, kuliner menjadi kata yang populer beberapa tahun belakangan. Kata ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari sehingga kita tidak (perlu) kesulitan memikirkan maknanya: apa yang dimaksud dengan kuliner pada suatu konteks akan mudah tersampaikan.

Continue reading