Catatan Singkat tentang Negeri Jiran dan Para Perantau Dermawan

Desember tahun lalu adalah kali pertama saya mengunjungi Malaysia. Agenda pelancongan ini menjenguk saudara dan nonton Timnas main di Piala AFF 2012. Saya sempat menyinggahi dua tempat: Pulau Pinang di lepas pantai sebelah barat semenanjung, lalu Kuala Lumpur di selatan. Tentu saja, saya berharap untuk mendapatkan pengalaman menarik di bangsa yang sering dipandang secara antagonistik oleh banyak dari kita orang Indonesia.

Kata jiran, seperti yang anda ketahui, diserap dari bahasa Arab yang artinya tetangga. Maka selayaknya saat bertamu ke tetangga samping rumah, saya berusaha untuk membuang jauh-jauh prasangka buruk tentangnya. Akan tetapi, ketika berada di dalam taksi dari bandara ke penginapan di Pulau Pinang, masih saja ada keraguan untuk sekadar berbicara tentang pertandingan sepak bola yang dihelat sebentar lagi itu. Dengan naif, saya khawatir kalau-kalau sopir taksi, yang selama lima menit pertama perjalanan diam, akan mengurangi kualitas pelayanannya setelah mengetahui penumpangnya dari Indonesia.

“Ini mau lihat bola, tapi mampir Pinang dulu,” saya akhirnya membuka obrolan.

Continue reading

Advertisements