Olahraga

Yang akan saya bicarakan ini sebenarnya pernah dibahas secara ringkas oleh Guru Besar Seni Rupa ITB Sudjoko (alm) dan juga Goenawan Mohamad. Saya ingin sekadar membagikan lagi apa yang saya dapat dari pandangan beliau-beliau di atas.

Tak lama lalu, saya membaca obrolan singkat seorang suporter klub Arsenal di dunia maya. Ia dengan guyon berkata, “It’s man sitting on a machine.”  Omongannya itu tentang balapan Formula 1 yang tidak dianggapnya olahraga (sport).

Mungkin ia keliru. Menurut saya, balapan Formula 1 itu sport, tapi bukan olahraga.

Continue reading

Maaf

By using stale metaphors, similes, and idioms, you save much mental effort, at the cost of leaving your meaning vague, not only for your reader but for yourself (George Orwell)

Tiap Lebaran tiba kita dipaksa akrab dengan permohonan maaf. Keluarga dan handai tolan mengucap maaf secara bertubi-tubi, meski hanya lewat pesan pendek dan tanpa menyebut nama orang yang dituju. Frasa yang digunakan umumnya sama dan membosankan: mohon maaf lahir batin.

Semua ini telah menjadi tradisi yang mengakar sedemikian kuat dalam sebagian besar masyarakat Indonesia — konon maaf-maafan ini khas Nusantara. Hanya saja setiap tradisi dibentuk dengan pengulangan. Sebab itu wajar diragukan apatah orang-orang bersungguh-sungguh saat mengucap ‘mohon maaf lahir batin’. Sedangkan memahami maknanya saja belum tentu.

Bahasa pada dasarnya berlaku untuk menyatakan pikiran, yaitu agar orang lain mengetahui apa yang ada dalam kepala kita dan kemudian memberi tanggapan. Sebagai medium, bahasa tak ubahnya alat. Konsekuensinya, ia tunduk kepada tuannya. Jadi ada benarnya kalau orang Arab bilang ‘lidahmu pedangmu’. Pedang dapat digunakan untuk memotong daging makanan atau menebang pohon buat bikin rumah. Tetapi jika si pengguna hilang kesadaran, pedang itu dapat saja memotong tangannya sendiri. Maka, benar saja tak cukup. Laiknya pedang, sebaik-baik bahasa adalah yang juga digunakan secara sadar.

Ketika orang menyambalewa dengan permohonan maafnya, yaitu dengan kalimat yang asal comot dan semacam templat saja, kemungkinan ia tidak melakukannya dengan penuh kesadaran. Jika sudah begitu, ucapannya akan menjadi sekadar formalitas. Ada jarak antara ujaran dan pikiran yang jujur dari dirinya. Jarak yang sama juga memisahkan antara kata-kata dan perbuatan.

Dilar*ng Mengump*t

Perlu sensor?

 

Saya ingat betul bagaimana Goal.com mengutip ucapan Nicolas Anelka di tengah kekacauan timnas Perancis di Piala Dunia 2010. Konon pemain Chelsea yang terkenal mbeling itu berkata, “Go f*** yourself!” saat berselisih paham dengan pelatihnya, Raymond Domenech. Ia pun dipulangkan secara tidak hormat.

Media cetak sering malu-malu untuk menggunakan atau mengutip umpatan. Untuk itu, digunakanlah asterisk (*) sebagai sensor. Tentu saja, tidak semua huruf dalam sebuah kata makian diganti tanda asterisk. Dengan menyisakan setidaknya satu huruf, media ingin apa yang diucapkan oleh sumber terkait tetap dapat mudah dipahami tanpa harus menyalahi asas kesopanan. Jika kita menulis f*** dalam situasi tertentu, dengan memahami konteks bacaan hampir bisa dipastikan orang dapat menebak bahwa kata tersebut adalah fuck.

Continue reading

Meramal Koalisi

“JK-Mega Menjajaki Koalisi” begitu judul berita utama Kedaulatan Rakyat pagi, Kamis, 12 Maret 2009. Dicetak jelas dengan ukuran huruf yang besar dan tebal di pojok kanan halaman pertama dan dengan kalimat informatif, judul itu mengandung kesan seolah-olah sebuah fakta yang benar adanya: bahwa wakil presiden dan mantan presiden kita itu menjajaki sebuah upaya kerja sama antar partai masing-masing.

Benar saja, kalimat pembuka paragraf berita itu adalah “Penjajakan terus dilakukan Jusuf Kalla (JK) bersama Partai Golkar, untuk membentuk pasangan baru dalam Pilpres mendatang.” Tetapi yang membuat saya terkejut adalah pembantahan yang dilakukan sendiri oleh Sekjen PDIP Pramono Anung yang mengaku tidak tahu apa yang dibicarakan dua tokoh di atas. “Soal koalisi atau tidak, itu merupakan kewenangan kedua tokoh tersebut,” ujarnya.

Lho, bukannya penjajakan JK terhadap Mega sudah jelas tadi di judul? Kenapa judul dibantah sendiri oleh badan berita?

Continue reading

Menyikapi Bahasa

Syahdan, Kung Fu-Tze pernah berkata, “… selama penggunaan bahasa tidak beres, yang diucapkan bukanlah yang dimaksud, yang dimaksud tidak dikerjakan, dan yang dikerjakan bukan yang dimaksud.” Saya percaya pada kata-kata sang filsuf Cina. Namun, saya tidak yakin apakah bahasa dapat betul-betul dibereskan. Mari kita fokuskan perhatian pada bahasa Indonesia.

Banyak sekali munsyi yang pernah mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu centang perenang alias amburadul. Saya tidak bisa membantah karena kenyataannya memang seperti itu. Mungkin ada banyak hal, tapi ada tiga yang saya catat, yang setidaknya menjadi biang keladi utama kekacauan tersebut: kebingungan tata bahasa, (ketiadaan) logika bahasa, dan juga sifat bahasa yang dinamis.

Continue reading

Pebalap atau Pembalap?

Pada 30 Oktober 2010 lalu, seorang kawan bercerita lewat milis Bahtera. Katanya, harian Kompas hari itu menulis pebalap dalam artikel mengenai keberhasilan Jorge Lorenzo menjuarai MotoGP 2010. Di pagi yang sama, ia juga membaca koran Sindo dan menemukan kata pembalap. Kawan itu lantas bertanya manakah yang sebaiknya digunakan, pebalap atau pembalap?

Continue reading