Tawaran dan Penawaran

Bahasa Indonesia—perkenankan saya untuk memulai tulisan ini dengan perkataan klise tetapi benar adanya—adalah sebuah bahasa yang sesungguhnya cukup kaya dengan segala keanekaragaman yang dikandungnya. Maka, sebaiknya kita cegah segala pemiskinan karena alasan-alasan tidak perlu, apalagi ketika hal itu sebenarnya bisa kita hindari tanpa bersusah payah.

Setiap kali menemuinya di perempatan, atau pun di banyak tempat lain secara daring dan luring, saya selalu terusik dengan kata penawaran. Dalam proses penerjemahan, banyak penggunaan kata ini merupakan pemadanan dari kata bahasa Inggris offer. “Penawaran terbatas!” misalnya, kemungkinan besar merupakan terjemahan dari “Limited offer!

Memang tidak ada masalah komunikasi di sini, dan setiap orang yang melihatnya saya pikir akan mampu menangkap maksud seruan rayu khas pertokoan tersebut. Hanya saja, dari sudut pandang morfologis, penggunaan penawaran ini pantas disayangkan karena merupakan kemubaziran alias sesuatu tidak perlu.

Continue reading

Apakah “Selera” Membutuhkan “Dengan”?

Seorang rekan di sebuah forum bertanya mengenai pemakaian kata sesuai: mana yang benar, “sesuai selera” atau “sesuai dengan selera”? Pertanyaan ini sederhana sekaligus menarik sehingga mengundang banyak jawaban dari rekan-rekan lain.

Beberapa berpendapat bahwa yang lebih benar adalah yang kedua, dan pengorupan preposisi (dalam hal ini, dengan) disebabkan oleh para pekerja media yang diharuskan mengirit ruang. Tetapi ada yang dengan tegas menyatakan kedua-duanya berterima dalam bahasa Indonesia. Pendapat saya berada di sisi yang sama dengan yang terakhir ini. Dan walaupun bukan seorang jauhari linguistik, izinkan saya menjelaskan alasan di baliknya.
Continue reading