Maaf

By using stale metaphors, similes, and idioms, you save much mental effort, at the cost of leaving your meaning vague, not only for your reader but for yourself (George Orwell)

Tiap Lebaran tiba kita dipaksa akrab dengan permohonan maaf. Keluarga dan handai tolan mengucap maaf secara bertubi-tubi, meski hanya lewat pesan pendek dan tanpa menyebut nama orang yang dituju. Frasa yang digunakan umumnya sama dan membosankan: mohon maaf lahir batin.

Semua ini telah menjadi tradisi yang mengakar sedemikian kuat dalam sebagian besar masyarakat Indonesia — konon maaf-maafan ini khas Nusantara. Hanya saja setiap tradisi dibentuk dengan pengulangan. Sebab itu wajar diragukan apatah orang-orang bersungguh-sungguh saat mengucap ‘mohon maaf lahir batin’. Sedangkan memahami maknanya saja belum tentu.

Bahasa pada dasarnya berlaku untuk menyatakan pikiran, yaitu agar orang lain mengetahui apa yang ada dalam kepala kita dan kemudian memberi tanggapan. Sebagai medium, bahasa tak ubahnya alat. Konsekuensinya, ia tunduk kepada tuannya. Jadi ada benarnya kalau orang Arab bilang ‘lidahmu pedangmu’. Pedang dapat digunakan untuk memotong daging makanan atau menebang pohon buat bikin rumah. Tetapi jika si pengguna hilang kesadaran, pedang itu dapat saja memotong tangannya sendiri. Maka, benar saja tak cukup. Laiknya pedang, sebaik-baik bahasa adalah yang juga digunakan secara sadar.

Ketika orang menyambalewa dengan permohonan maafnya, yaitu dengan kalimat yang asal comot dan semacam templat saja, kemungkinan ia tidak melakukannya dengan penuh kesadaran. Jika sudah begitu, ucapannya akan menjadi sekadar formalitas. Ada jarak antara ujaran dan pikiran yang jujur dari dirinya. Jarak yang sama juga memisahkan antara kata-kata dan perbuatan.

Advertisements