Melayat

Siang tadi, aku melayati bapak seorang sahabat. Beliau meninggal kemarin sore, tapi aku tak dapat segera berkunjung karena sedang tak sehat. Cuaca Jogja akhir-akhir ini memang dingin dan badanku takluk juga padanya.

Kusambangi rumah sahabatku itu sendirian. Kawan-kawan lain sudah melayat kemarin malam dan tadi pagi, sementara aku sibuk menguras ingus. Ini bapak dari teman lama, orang yang dulu sering berbagi masa denganku. Maka, aku harus datang.

Orang-orang telah berhamburan di depan gang rumahnya di selatan Plengkung Gading. “Terlambat,” batinku. Benar juga, ketika aku masuk halaman rumah duka, hanya kulihat ibu sahabatku itu. Seseorang memberitahuku bahwa jenazah telah diangkut ke kuburan.

Continue reading

Advertisements